Tak Ada Kebun Binatang, Kandang Transit BKSDA Kalteng Jadi Destinasi Favorit Edukasi Satwa
Siswa TKA Al-Azhar Palangkaraya belajar konservasi di BKSDA Kalteng, mengenal satwa Borneo lewat kandang transit dan edukasi interaktif guna menumbuhkan kepedulian lingkungan sejak dini.
PALANGKA RAYA - Ada pemandangan berbeda di Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng), pada Kamis (23/4/2026).
Suara riuh ceria anak-anak dari TKA Al-Azhar Palangkaraya memecah keheningan pusat penyelamatan satwa tersebut. Bukan sekadar berkunjung, mereka sedang belajar menjadi pahlawan konservasi sejak dini.
Di tengah ketiadaan fasilitas kebun binatang di Kalimantan Tengah, BKSDA Kalteng mengambil peran strategis.
Melalui fasilitas Kandang Transit, mereka membuka pintu bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan hayati Borneo secara langsung.
Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Kalteng, Agnes Indra Mahanani, menjelaskan bahwa program edukasi ini menyasar seluruh level pendidikan, mulai dari TK hingga mahasiswa.
"Kami mengenalkan berbagai jenis satwa yang ada di kandang transit. Mayoritas adalah hasil serahan masyarakat atau temuan di pemukiman. Di sini mereka kami rehabilitasi sebelum akhirnya dikembalikan ke habitat aslinya di hutan," ujar Agnes.
Para siswa nampak antusias saat melihat dari dekat berbagai satwa ikonik, di antaranya, Kangkareng Putih (Burung Enggang) yang eksotis, Owa-owa yang lincah, Beruang Madu yang menggemaskan namun tangguh, Baning (Kura-kura darat) dan berbagai jenis kura-kura lainnya.
Tak hanya melihat kandang, BKSDA Kalteng juga menyediakan fasilitas Studio Edukasi. Di ruangan ini, anak-anak disuguhkan film dokumenter tentang kehidupan satwa di alam liar serta proses pelepasliaran (release) yang penuh haru dan makna.
"Anak-anak sangat excited. Banyak dari mereka yang baru pertama kali melihat satwa-satwa ini secara nyata. Untuk mendukung visualisasi, kami juga menyediakan media patung satwa sebagai sarana belajar yang interaktif," tambah Agnes.
Bagi BKSDA Kalteng, kunjungan ini bukan sekadar wisata sekolah. Ini adalah investasi jangka panjang. Harapannya, dengan melihat langsung kondisi satwa yang pernah terdampak konflik dengan manusia, anak-anak akan tumbuh dengan rasa empati dan kesadaran untuk menjaga hutan.
"Kami ingin mereka paham bahwa tempat terbaik satwa adalah di hutan, bukan di dalam kandang peliharaan," tegas Agnes.
Kehadiran Kandang Transit BKSDA Kalteng sebagai destinasi edukasi alternatif di Palangkaraya membuktikan bahwa literasi konservasi bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.
Dengan animo yang terus meningkat, BKSDA Kalteng berkomitmen untuk terus membuka diri bagi sekolah-sekolah yang ingin belajar menjaga warisan alam Kalimantan Tengah. (*)
Apa Reaksi Anda?