Felita Eleonora dan Gerhard Mair Gelar Resital Duo Harpa-Flute Perdana di Indonesia

Melalui konser ini, keduanya memperkenalkan repertoar duo harpa dan flute yang masih sangat jarang dipentaskan di Indonesia, menghadirkan pengalaman musikal yang menawarkan perspektif baru bagi penikm

Juli 30, 2026 - 18:44
Felita Eleonora dan Gerhard Mair Gelar Resital Duo Harpa-Flute Perdana di Indonesia
JAKARTA -

The Resonanz Music Studio mempersembahkan resital duo bertajuk Shades and Nuances di Balai Resital Kertanegara, Jakarta. Konser musik ini menampilkan harpis Indonesia Felita Eleonora bersama flutis asal Austria Gerhard Mair.

Dalam momen ini pergelaran tersebut menjadi salah satu resital duo harpa dan flute pertama di Indonesia sekaligus kolaborasi perdana antara Felita dan Gerhard di Tanah Air.

Melalui konser ini, keduanya memperkenalkan repertoar duo harpa dan flute yang masih sangat jarang dipentaskan di Indonesia, menghadirkan pengalaman musikal yang menawarkan perspektif baru bagi penikmat musik klasik.

Felita Eleonora merupakan harpis Indonesia lulusan Yong Siew Toh Conservatory of Music, National University of Singapore, dan Boston University.

Sebagai penerima beasiswa penuh di kedua institusi tersebut, Felita aktif tampil di berbagai panggung internasional, termasuk sebagai harp fellow Asian Youth Orchestra 2025 serta Spoleto Festival USA 2023.

Sementara itu, Gerhard Mair merupakan flutis asal Austria yang aktif sebagai pemain orkestra di berbagai orkestra di Asia dan Eropa, chamber music, dan pendidik.

Lebih lanjut pertemuan keduanya dalam Shades and Nuances melahirkan sebuah kolaborasi lintas budaya yang mempertemukan dua latar musikal dalam satu panggung.

Perpaduan harpa dan flute menjadi daya tarik utama malam itu. Meski memiliki karakter bunyi yang sangat berbeda, kedua instrumen saling melengkapi dengan alami.

Kehangatan dan resonansi harpa berpadu dengan kejernihan serta keluwesan flute, menghasilkan warna bunyi yang kaya dan menghadirkan pengalaman mendengarkan yang berbeda dari format musik kamar yang lazim ditemui.

Namun, Shades and Nuances tidak hanya menawarkan keunikan dari sisi instrumen. "Konser ini dirancang sebagai sebuah perjalanan musikal yang merayakan kehidupan melalui keberagaman budaya, emosi, dan pengalaman manusia," ujar Felita, Kamis (30/7/2026).

Melalui karya-karya komponis dari Italia, Prancis, Argentina, hingga Jepang, audiens diajak menikmati bagaimana setiap budaya memiliki warna musikal dan cara bercerita yang berbeda.

Sepanjang pertunjukan, Felita turut memperkenalkan setiap karya sekaligus mengajak penonton memahami kisah dan latar budaya di baliknya, sehingga setiap komposisi menjadi bagian dari sebuah perjalanan yang utuh.

Babak pertama menghadirkan karya-karya Gioachino Rossini, Marc Berthomieu, Philippe Gaubert, dan Nino Rota, yang masing-masing memperlihatkan karakter musikal yang berbeda mulai dari permainan yang ringan dan jenaka, lanskap impresionistis, hingga lirikalisme khas Italia.

Memasuki babak kedua, perjalanan berlanjut melalui Gaetano Donizetti dan Michio Miyagi, membawa penonton menikmati keanggunan tradisi Bel Canto sekaligus keindahan lanskap musim semi di Jepang.

Salah satu sorotan utama malam itu adalah Histoire du Tango karya Astor Piazzolla.

Melalui Café 1930 yang puitis dan Bordel 1900 yang penuh energi, duo ini tidak hanya membawakan musik, tetapi juga mengajak audiens menyaksikan perjalanan sejarah tango di Argentina dari tarian rakyat di kawasan kelas pekerja Buenos Aires hingga berkembang menjadi salah satu bentuk seni konser yang mendunia.

"Meskipun karya ini awalnya ditulis untuk flute dan gitar, penggunaan harpa menghadirkan warna bunyi yang lebih hangat tanpa menghilangkan karakter ritmis yang menjadi ciri khas Piazzolla," ucapnya.

Sambutan hangat dari para penonton membawa kedua musisi kembali ke panggung untuk membawakan tiga karya tambahan sebagai encore.

Mereka membuka encore dengan Intermezzo dari opera Carmen karya Georges Bizet, dilanjutkan oleh Entr'acte karya Jacques Ibert yang penuh semangat.

Malam kemudian ditutup dengan The Nightingale karya Deborah Henson-Conant. Saat lampu auditorium perlahan diredupkan hingga gelap pada akhir dari lagu tersebut, suasana berubah menjadi hening dan reflektif.

Tanpa kata-kata, hanya melalui musik, kedua musisi mengakhiri konser dengan ketenangan dan rasa syukur yang dirasakan bersama oleh seluruh hadirin.

Mengenai makna di balik Shades and Nuances, Felita Eleonora mengungkapkan harapannya agar penonton menikmati perjalanan musikal yang telah dilalui bersama.

"Lebih dari apa pun, saya berharap para penonton menikmati perjalanan yang kita lalui bersama, seolah berkeliling dunia dan mengenal sekilas keindahan dari setiap budaya yang kami hadirkan. Bagi saya, resital ini adalah cerminan kehidupan. Hidup tidak hanya dibentuk oleh pencapaian-pencapaian besar, tetapi juga oleh emosi-emosi kecil, momen-momen sederhana, dan orang-orang yang hadir menemani perjalanan kita. Itulah berbagai shades dan nuances yang membuat hidup begitu bermakna. Itulah yang ingin kami rayakan melalui konser ini," tutur Felita.

Konsep artistik yang diusung serta kekompakan kedua musisi mendapat sambutan hangat dari para penonton.

Salah seorang penonton menyebut perpaduan harpa dan flute sebagai pengalaman yang 'playful dan dreamy', sementara penonton lain mengaku baru pertama kali menyaksikan format duo ini secara langsung dan merasa bersyukur dapat menikmati pengalaman musikal yang begitu unik.

Interpretasi Histoire du Tango juga menjadi salah satu penampilan yang paling banyak mendapat apresiasi.

Seorang penonton menggambarkannya sebagai interpretasi yang 'magical', seolah membawa audiens kembali ke suasana milonga di Argentina pada era 1930-an.

Penampilan Gerhard Mair yang elegan dan penuh kontrol berpadu harmonis dengan permainan harpa Felita Eleonora yang anggun sekaligus berkarakter, menghasilkan keseimbangan musikal yang memikat sepanjang pertunjukan.

Melalui Shades and Nuances, Felita Eleonora dan Gerhard Mair tidak hanya mempersembahkan sebuah resital, tetapi juga membuka ruang bagi publik Indonesia untuk mengenal repertoar duo harpa dan flute yang masih jarang dipentaskan.

Lebih dari itu, konser ini mengajak audiens melihat musik sebagai sebuah perjalanan lintas budaya dan refleksi tentang kehidupan bahwa keindahan sering kali hadir bukan dalam momen-momen besar, melainkan dalam berbagai nuansa kecil yang, ketika dirangkai bersama, membentuk kisah hidup yang utuh. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow