Panen Kopi Malang 2026: Hasil Menurun, Harga Turun, Semangat Petani Lereng Semeru Tak Pernah Padam
Musim panen kopi robusta di Dampit, Kabupaten Malang tahun 2026 diwarnai penurunan hasil produksi dan harga jual di tingkat petani.
Hawa sejuk menyelimuti Desa Dampit di lereng Gunung Semeru saat matahari perlahan terbit di ufuk timur, Kamis (30/7/2026). Di tengah embun pagi, para petani mulai menyusuri barisan pohon kopi. Mereka memetik buah kopi merah yang telah matang dan memasukkannya ke dalam keranjang, menandai dimulainya musim panen.
Kawasan lereng Gunung Semeru dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan kopi robusta di Kabupaten Malang. Kesuburan tanah vulkanik menghasilkan biji kopi dengan karakter rasa khas dan aroma kuat, sehingga diminati pasar domestik maupun internasional.
Namun, musim panen tahun ini membawa tantangan berat. Selain hasil panen yang merosot, harga kopi di tingkat petani juga menurun dibandingkan musim sebelumnya.
Jika pada musim lalu harga kopi berada di kisaran Rp65.000 hingga Rp70.000 per kilogram, kini harganya turun menjadi Rp60.000 hingga Rp63.000 per kilogram. Penurunan ini menjadi beban tersendiri bagi petani yang mengandalkan hasil panen untuk kebutuhan hidup dan biaya perawatan kebun.
Djumangin, salah seorang petani setempat, menuturkan bahwa produksi kopi tahun ini turun cukup drastis. Kondisi serupa dirasakan oleh sebagian besar petani kopi robusta di wilayah Kabupaten Malang.
Meski demikian, aktivitas di perkebunan tetap berjalan. Sejak pagi, para pemetik kopi mengumpulkan buah kopi merah matang (cherry) ke dalam keranjang sebelum dibawa ke tempat pengolahan.
Penurunan produksi ini sejalan dengan proyeksi United States Department of Agriculture (USDA) yang memperkirakan produksi kopi Indonesia pada periode 2026/2027 turun sekitar 8 persen. Tingginya curah hujan menjadi penyebab utama karena mengganggu proses pembungaan hingga perkembangan buah di berbagai sentra produksi, termasuk Malang.
Kendati menghadapi kendala produksi, Indonesia tetap mempertahankan posisinya sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia dengan kontribusi sekitar 7 persen terhadap produksi kopi global. Biji kopi Indonesia aktif diekspor ke sejumlah negara tujuan utama, seperti Amerika Serikat, Malaysia, dan Mesir.
Di dalam negeri, pasar domestik juga terus bertumbuh seiring meningkatnya budaya minum kopi. Menjamurnya kedai kopi memperkuat pasar lokal dan menjadikan kopi bukan sekadar komoditas ekspor, melainkan bagian dari gaya hidup.
Bagi petani di lereng Semeru, musim panen bukan sekadar hitungan angka produksi dan harga jual. Di balik setiap petikan kopi, ada harapan agar cuaca kembali bersahabat dan kesejahteraan mereka tetap terjaga. (*)
Apa Reaksi Anda?