Persaingan Industri Kecantikan Kian Sengit, Produk Lokal Dituntut Lebih Inovatif
Industri kecantikan dinilai menjadi salah satu sektor yang terus berkembang dan memiliki peluang pasar besar seiring meningkatnya jumlah konsumen produk kosmetik dan perawatan diri.
MALANG - Industri kecantikan dinilai menjadi salah satu sektor yang terus berkembang dan memiliki peluang pasar besar seiring meningkatnya jumlah konsumen produk kosmetik dan perawatan diri. Namun, pertumbuhan tersebut juga diiringi berbagai tantangan, mulai dari persaingan industri hingga perubahan tren konsumen yang berlangsung cepat.
CEO Martha Tilaar Group, Dr. Kilala Tilaar, mengatakan industri kecantikan saat ini menghadapi kompetisi yang semakin ketat. Menurutnya, jumlah pelaku industri kosmetik domestik meningkat signifikan dibanding era 1970-an.
“Pada tahun 1970-an hanya ada sekitar 50 pemain industri kecantikan di Indonesia. Sekarang jumlahnya mencapai sekitar 1.700 industri,” ujarnya pada (12/5/2026).
Kilala menilai kondisi tersebut membuat pasar industri kecantikan berubah menjadi hiperkompetitif atau black ocean market, di mana persaingan terjadi secara masif antarpelaku usaha.
Tantangan selanjutnya adalah pergeseran tren kecantikan, terutama oleh Gen-Z. Jika zaman dulu satu produk bisa digunakan oleh banyak kalangan masyarakat, tetapi untuk generasi ini, mereka memiliki taste dan keunikan tersendiri dalam memilih produk kecantikan yang sesuai dengan personalitynya.
Selain itu, kondisi geopolitik dunia yang tidak pasti juga menjadi tantangan industri kecantikan. Dampaknya adalah terhadap kegiatan impor bahan kosmetik menjadi terhambat. Hal tersebut juga didorong oleh nilai rupiah yang semakin mengecil.
Selanjutnya adalah dominasi produk buatan China yang menguasai market Indonesia. Menurut Kilala, produk buatan negara tersebut memiliki inovasi yang bagus namun dengan harga yang terjangkau. Hal tersebut juga didorong oleh mentalitas para pekerja China yang memiliki etos kerja baik.
Kilala menyebut, bahan baku produk kosmetik nasional masih mengandalkan impor. Padahal, lanjutnya, Indonesia memiliki berbagai tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk membuat produk-produk kecantikan karena terkenal akan kandungannya, seperti daun cica, bunga telang, pandan, melati, dan lain sebagainya.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Kilala menilai bahwa Indonesia membutuhkan inovasi yang menggabungkan kebutuhan pasar. Terutama yang mengandung unsur budaya lokal dan alam Indonesia.
“Seperti kata Steve Jobs, innovation is the only way to win. Buatlah inovasi yang tepat guna,” tambahnya.
Ia menjelaskan kriteria produk bagus menurutnya adalah yang memiliki manfaat, nilai tambah, dan efikasi yang jelas. Sedangkan, produk yang tidak memiliki tujuan dan tidak memiliki konsumen yang jelas, maka produk tersebut ia nilai sebagai produk gagal.
Ia juga menjelaskan pergeseran tren industri kecantikan global yang tidak hanya berorientasi pada kecantikan semata, tetapi juga bagaimana kesehatan fisik dan mental melalui produk-produk berbahan hayati alami.
“Saat ini masyarakat dalam membeli produk tidak hanya memperhatikan cantik-cantiknya saja, tetapi juga wellness atau kesehatan baik fisik dan mental yang ia dapatkan dalam memakai produk tersebut,” pungkasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?