Selat Hormuz Bisa Menjadi Zona Maut Bagi Amerika Serikat

Selat Hormuz bisa berubah menjadi zona maut yang mematikan bagi Angkatan Laut AS jika Donald Trump ngotot...

Maret 16, 2026 - 10:00
Selat Hormuz Bisa Menjadi Zona Maut Bagi Amerika Serikat

JAKARTA Selat Hormuz bisa berubah menjadi zona maut yang mematikan bagi Angkatan Laut AS jika Donald Trump ngotot memutuskan untuk mengirim kapal perang Amerika ke jalur perairan yang bermasalah tersebut. 

Menurut Angkatan Laut, seperti yang dilaporkan oleh Wall Street Journal, pengiriman pelaut AS ke selat sempit itu kemungkinan akan menjadikan mereka sasaran empuk bagi serangan pesawat tak berawak dan rudal Iran yang dahsyat.

Setidaknya 13 warga Amerika telah mati dalam perang dengan Iran, yang dipicu oleh serangan udara tiba-tiba gabungan antara AS-Israel pada tanggal 28 Februari 2026 yang menyebabkan Pemimpin Tertinggi iran, Ayatollah  Ali Khamenei meninggal dunia beserta istri, anak dan menantunya.

Akibatnya ketegangan wilayah Teluk mendidih dalam beberapa hari berikutnya karena Iran melakukan pembalasan terhadap pangkalan-pangkalan Amerka Serikat. Sementara Israel masih terus saja membombardir Teheran. 

Kini Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia telah menjadi titik fokus dalam konflik internasional itu karena ditutup oleh Iran dan menyebabkan kekacauan di pasar global, khususnya di sektor minyak dan gas. 

Sekitar 3.000 kapal berlayar melalui koridor tersebut setiap bulannya, tetapi sejak AS-Israel memerangi Iran, banyak kapal kargo besar telah diserang dan dijarah saat melewati Teluk Persia tersebut.

Trump yang sebelumnya optimistis, berkoar-koar bagaimana ia bermaksud untuk membuka kembali jalur tersebut malah minta bantua sekutunya  untuk membantu mengembalikan jalur perdagangan tersebut ke kondisi normal. 

"AS juga akan berkoordinasi dengan negara-negara tersebut agar semuanya berjalan cepat, lancar, dan baik. Ini seharusnya selalu menjadi upaya tim, dan sekarang akan menjadi demikian," tulisnya pada akhir pekan.  

Trump kemudian menyebutkan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Inggris, China, Prancis, dan lainnya sebagai negara-negara yang ia harapkan akan membantu AS mengamankan jalur perairan tersebut. Tetapi "permohonan" Trump itu tidak direspon oleh negara-negara itu.

Minggu malam, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer dan Trump membahas pentingnya membuka kembali Selat Hormuz untuk mengakhiri gangguan terhadap pelayaran global, yang karena hal itu mendorong kenaikan biaya di seluruh dunia," kata Downing Street dalam sebuah panggilan telepon. 

Menteri Energi Chris Wright mengatakan kepada NBC News  bahwa ia memperkirakan China akan menjadi "mitra konstruktif" dalam membuka kembali jalur tersebut.

Wright mengatakan bahwa Angkatan Laut telah berhasil mengawal satu kapal komersial melalui unggahan X yang kini telah dihapus, pada tanggal 10 Maret 2026. 

Namun, sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada Reuters bahwa Angkatan Laut belum bisa menyediakan pengawalan untuk kapal-kapal yang meminta untuk melewati Selat tersebut karena risikonya yang tinggi. 

Para pejabat menambahkan bahwa mereka belum diinstruksikan untuk memberikan pengawalan, dan memperingatkan bahwa lorong tersebut bisa menjadi 'zona pembunuhan' untuk kapal perang AS dan kapal komersial.

Pada hari Minggu, pasukan pertahanan Israel juga memperingatkan bahwa perang tersebut bisa berlangsung selama enam minggu lagi.

Juru bicara IDF, Brigjen Effie Defrin, mengatakan kepada CNN bahwa angkatan bersenjata Israel memiliki rencana untuk "setidaknya tiga minggu lagi memerangi Iran", dan mengisyaratkan rencana yang lebih mendalam untuk tiga minggu berikutnya.

Ia mengatakan, pihaknya siap berkoordinasi dengan sekutu Amerika Serikat dengan rencana setidaknya hingga hari raya Paskah Yahudi, sekitar tiga minggu dari sekarang. "Dan kami memiliki rencana yang lebih mendalam bahkan untuk jangka waktu yang lebih lama tiga minggu setelah itu," katanya.

Defrin menegaskan bahwa IDF 'tidak bekerja berdasarkan stopwatch, atau jadwal waktu, tetapi untuk mencapai tujuannya.

Perebutan Selat tersebut terjadi di tengah spekulasi mengenai keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei (56) yang terluka dan menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, dibunuh AS-Israel pada 28 Februari. 

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa ia koma setelah serangan udara, dan beberapa pengamat, termasuk Trump, menduga ia telah meninggal.

Khamenei disebut-sebut tidak menyadari sedang terjadi perang, bahkan sampai dia ditetapkana sebagai pengganti ayahnya.

Menurut kantor berita Al-Jarida, cedera yang dialaminya mengharuskan dia diterbangkan ke Rusia untuk menjalani operasi yang 'ditawarkan langsung oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Diperkirakan ia diterbangkan ke Rusia dengan menggunakan pesawat militer Rusia. Menurut sumber Al-Jarida, Mojtaba Khameini menjalani operasi  di Rusia dan berhasil.

Sebuah sumber terpisah mengatakan kepada The Sun melalui pesan rahasia yang dikirim kepada seorang pembangkang yang diasingkan dan berbasis di London, satu atau dua kakinya telah diamputasi. Hati atau perutnya juga pecah. Dia tampaknya juga dalam keadaan koma.

Sumber tersebut, yang tidak ingin disebutkan namanya karena takut akan keselamatannya, mengatakan, bahwa Pemimpin Tertinggi Iran yang baru itu berada dibawah perawatan dan pengawasan Menteri Kesehatan Pengobatan dan Pendidikan, Mohammad Reza Zafarghandi, salah satu ahli bedah trauma terkemuka di negara Iran.

Pernyataan Donald Trump terbaru yang disampaikan kepada Channel 14 Israel dengan seenaknya menyebutkan, bahwa negara-negara yang memperoleh minyak lewat Selat Hormuz lah yang harus berpartisipasi dalam pertempuran dan pertahanan agar selat tersebur tetap terbuka. "Kami tidak mendapatkan keuntungan apa pun dari Selat Hormuz," ujarnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow