Atasi Limbah Program MBG, BRIN Tawarkan Teknologi Pengolahan Jadi Energi

Peneliti BRIN menawarkan solusi inovatif pengelolaan limbah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui teknologi pirolisis hingga metode BSF guna mewujudkan ekonomi sirkular.

Mei 5, 2026 - 21:01
Atasi Limbah Program MBG, BRIN Tawarkan Teknologi Pengolahan Jadi Energi

JAKARTA - Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Basuki Rachmat, menawarkan sejumlah solusi inovatif untuk menangani potensi limbah dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui pendekatan teknologi, limbah organik sisa program tersebut dapat diubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi tinggi.

Dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (5/5/2026), Basuki memaparkan berbagai teknologi mutakhir yang mampu mengonversi limbah makanan menjadi sumber energi alternatif.

"Teknologi pirolisis, gasifikasi, pencernaan anaerobik, dan hidrotermal karbonisasi mampu mengubah limbah organik menjadi produk bernilai, seperti biogas, biochar, serta energi listrik," katanya.

Metode Sederhana untuk Skala Kecil

Selain penggunaan teknologi modern yang kompleks, Basuki menilai metode konvensional dan biologis tetap relevan untuk diterapkan, terutama pada skala operasional yang lebih kecil.

"Pengolahan limbah organik dapat dilakukan melalui komposting, penggunaan bioaktivator, maupun pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) yang mampu mengubah limbah menjadi pakan ternak dan pupuk," ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa pemilihan metode pengolahan harus dilakukan secara cermat. Faktor biaya, efektivitas, jenis limbah, hingga ketersediaan sumber daya lokal menjadi penentu utama dalam memilih teknologi yang paling tepat.

Implementasi Ekonomi Sirkular

Basuki menegaskan bahwa pengelolaan limbah pangan yang optimal tidak hanya berfungsi sebagai upaya perlindungan lingkungan, tetapi juga instrumen penguatan ekonomi nasional. Dengan prinsip ekonomi sirkular, sisa makanan tidak lagi menjadi beban buangan, melainkan bahan baku produktif.

"Dengan pengelolaan yang tepat, limbah pangan dapat diubah menjadi energi atau pupuk, sekaligus menekan emisi dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya," ucap Basuki.

Isu ini menjadi krusial mengingat data menunjukkan produksi limbah pangan di Indonesia mencapai 23 hingga 48 juta ton per tahun. Sebagian besar limbah tersebut berasal dari rumah tangga dan memberikan dampak negatif yang masif pada aspek lingkungan, ekonomi, serta sosial.

Sebagai penutup, Basuki menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam memandang sisa konsumsi, terutama dalam menyukseskan program strategis seperti Makan Bergizi Gratis.

"Prinsip reduce, reuse, recycle, dan recover harus diterapkan untuk meminimalkan limbah serta memaksimalkan pemanfaatan sumber daya. Dengan cara ini, limbah tidak lagi dianggap sebagai sisa, melainkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan kembali," tutur Basuki Rachmat. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow