Donald Trump: Perang Iran Diproyeksikan 4–5 Pekan
Donald Trump menyebut perang Iran diproyeksikan 4–5 pekan, namun bisa lebih lama. Klaim ancaman langsung dipertanyakan di tengah eskalasi konflik.
JAKARTA Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang melawan Iran awalnya diproyeksikan berlangsung empat hingga lima pekan. Namun, ia menegaskan militer AS memiliki kapasitas untuk melanjutkan operasi “jauh lebih lama” jika diperlukan.
Pernyataan itu disampaikan Trump dari Gedung Putih pada Senin (2/3/2026), di tengah meningkatnya sorotan terhadap legitimasi dan arah konflik yang kini memasuki fase eskalatif.
“Sejak awal kami memproyeksikan empat sampai lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk melangkah jauh lebih lama dari itu,” ujar Trump.
Ia menyebut target awal operasi adalah “mengakhiri kepemimpinan militer Iran”, dan mengklaim pencapaian tersebut berjalan lebih cepat dari jadwal. Sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan AS-Israel.
Trump kembali menegaskan bahwa Iran menimbulkan ancaman serius terhadap Amerika Serikat, terutama melalui program rudal balistik yang disebutnya berkembang “secara cepat dan dramatis”.
“Negara kami sendiri berada dalam ancaman, dan hampir saja benar-benar berada dalam ancaman,” kata Trump.
Eskalasi dan Korban Jiwa
Hingga awal pekan ini, ratusan korban jiwa dilaporkan di berbagai negara terdampak konflik, termasuk Iran, Lebanon, Israel, Uni Emirat Arab, dan Irak. Pentagon juga mengonfirmasi jatuhnya empat korban dari pihak militer AS.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan operasi militer ini bukan perang tanpa akhir.
“Ini bukan Irak. Ini bukan perang tanpa ujung,” ujarnya, merespons kekhawatiran sebagian basis politik Trump yang selama kampanye mengusung agenda “America First” dan menolak intervensi luar negeri berkepanjangan.
“Kami memperkirakan akan mengalami kerugian tambahan, dan seperti biasa, kami akan berupaya meminimalkan kerugian AS. Tetapi seperti yang dikatakan Menteri Pertahanan (Hegseth), ini adalah operasi tempur besar," kata Caine lagi.
Hegseth menyebut misi tersebut sebagai operasi “tegas dan menentukan” dengan sasaran menghancurkan ancaman rudal dan mencegah pengembangan senjata nuklir. (*)
Apa Reaksi Anda?