Sampah Berpotensi Melonjak dari Dapur SPPG, Ini Strategi Antisipasi DLH Batu

Lonjakan ini bukan tanpa alasan. Setiap dapur SPPG yang memproduksi ribuan porsi makanan setiap hari, otomatis menghasilkan limbah sisa makanan dalam jumlah besar.

Mei 3, 2026 - 19:01
Sampah Berpotensi Melonjak dari Dapur SPPG, Ini Strategi Antisipasi DLH Batu

BATU - Di balik masifnya program Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG), ancaman baru mulai mengintai.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu membunyikan alarm atas potensi ledakan sampah organik yang dinilai bisa membebani sistem pengolahan kota.

Lonjakan ini bukan tanpa alasan. Setiap dapur SPPG yang memproduksi ribuan porsi makanan setiap hari, otomatis menghasilkan limbah sisa makanan dalam jumlah besar. 

Di sisi lain, belum ada petunjuk teknis resmi dari pemerintah pusat yang secara khusus mengatur pengelolaan sampah dari program tersebut.

Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni Kurniawan, menegaskan bahwa potensi tambahan sampah dari SPPG tidak bisa dianggap sepele.

"Dalam perhitungan kami, satu dapur dengan kapasitas sekitar 2.000 porsi bisa menghasilkan kurang lebih 400 kilogram sampah organik per hari,"  ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Ia menambahkan, jika jumlah dapur terus bertambah, dampaknya akan terasa signifikan. Kalau ada 10 dapur aktif saja, tambahan sampah bisa mencapai 4 ton per hari. 

"Ini jelas menjadi tekanan serius bagi TPA yang sudah ada. Fakta di lapangan juga menunjukkan, keberadaan SPPG tidak serta-merta mengurangi produksi sampah rumah tangga," tambahnya.

Banyak keluarga tetap memasak dalam jumlah normal, sehingga sampah dari dapur rumah dan SPPG justru saling menumpuk.

Hingga April 2026, sebanyak 23 dapur SPPG telah beroperasi di Kota Batu, dengan proyeksi bertambah hingga 40 dapur. Jika tidak diantisipasi, total sampah organik yang dihasilkan bisa mencapai 4,6 hingga 9,2 ton per hari.

Sebagai langkah pencegahan, DLH mulai mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber. Setiap dapur SPPG diimbau mengolah limbahnya sendiri melalui komposter atau biodigester, agar tidak seluruhnya dibuang ke TPA.

"Memang saat ini masih sebatas imbauan, tapi kami selalu dilibatkan dalam setiap pembukaan dapur SPPG. Ke depan, akan kami dorong menjadi kebijakan yang lebih kuat," jelasnya.

DLH menilai, tanpa intervensi sejak awal, peningkatan volume sampah ini bisa mempercepat penuhya TPA dan memicu persoalan lingkungan yang lebih luas.

"Karena itu, kemandirian pengelolaan limbah di setiap dapur SPPG menjadi kunci agar program pemenuhan gizi tetap berjalan tanpa meninggalkan masalah baru bagi Kota Batu," tuturnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow