Pemkab Demak Gelar Tradisi Prajurit Patangpuluhan di Hari Raya Idul Adha

Pemkab Demak kembali menggelar tradisi iring-iringan Prajurit Patangpuluhan dalam puncak perayaan Grebeg Besar Demak 2026 untuk melestarikan budaya Kota Wali.

Mei 27, 2026 - 20:31
Pemkab Demak Gelar Tradisi Prajurit Patangpuluhan di Hari Raya Idul Adha

DEMAK - Pemerintah Kabupaten Demak, Jawa Tengah, berkomitmen menjaga kelestarian tradisi iring-iringan Prajurit Patangpuluhan Demak. Prosesi ini merupakan salah satu warisan budaya dan religi khas "Kota Wali" yang rutin digelar setiap Hari Raya Idul Adha.

Bupati Demak, Eisti'anah, menyampaikan bahwa iring-iringan Prajurit Patangpuluhan ini telah menjadi agenda tahunan yang tak terpisahkan dari perayaan Iduladha di Kabupaten Demak. Selain sebagai langkah merawat warisan leluhur, tradisi ini diharapkan dapat terus dijaga oleh generasi penerus.

"Saya berharap tradisi ini terus dilestarikan karena menjadi bagian dari identitas budaya dan sejarah Kabupaten Demak," ujarnya di Demak, Rabu (27/5/2025).

Puncak rangkaian Grebeg Besar Demak tahun 2026 ini berlangsung meriah sekaligus sakral berkat kehadiran iring-iringan tersebut. Berdasarkan pantauan di lapangan, tradisi tahunan ini sukses menarik minat ribuan wisatawan dan warga dari berbagai daerah untuk memadati Kabupaten Demak.

Dalam prosesi kirab, para prajurit tampak gagah mengenakan busana tradisional lengkap dengan atribut tombak dan tameng. Pasukan ini bertugas mengawal rombongan Bupati Demak bersama unsur Forkopimda serta para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menuju kawasan Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu.

Rombongan kirab juga membawa kembang setaman serta berbagai ubo rampe (sesaji). Perlengkapan tersebut nantinya akan digunakan sebagai campuran dalam prosesi penjamasan benda pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga bersama pihak Kasepuhan Kadilangu.

Rute kirab budaya ini dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak, kemudian melintasi Jalan Jimat, kawasan Pecinan, Jalan Sultan Fatah, depan Pasar Bintoro, Kracaan, Jalan Sunan Kalijaga, Jalan Raden Sahid, hingga berakhir di kompleks Makam Sunan Kalijaga Kadilangu.

Secara historis, Prajurit Patangpuluhan memegang peranan penting dalam tradisi Grebeg Besar. Keberadaan pasukan ini tidak hanya menjadi simbol sejarah Kerajaan Demak Bintoro, tetapi juga sarat akan nilai religi dan budaya.

Pada masanya, Prajurit Patangpuluhan merupakan pasukan elite Kerajaan Demak Bintoro yang berkekuatan 40 orang. Mereka dikenal sebagai pengawal khusus dalam berbagai agenda penting kerajaan.

Hingga saat ini, tradisi tersebut dipertahankan sebagai bagian dari rangkaian Grebeg Besar Demak setiap tanggal 10 Zulhijah, khususnya dalam prosesi pemberangkatan minyak jamas.

Dalam struktur tradisi tersebut, Prajurit Patangpuluhan bertugas mengawal minyak jamas pemberian Raja Demak Bintoro untuk diserahkan kepada sesepuh Kadilangu. Minyak khusus ini digunakan untuk menjamas atau membersihkan dua pusaka utama peninggalan Sunan Kalijaga, yaitu Keris Kiai Crubuk dan Kutang Ontokusumo.

Melalui penyelenggaraan ini, Pemerintah Kabupaten Demak berharap tradisi Grebeg Besar dan iring-iringan Prajurit Patangpuluhan dapat terus memperkuat identitas budaya Kota Wali. Di sisi lain, agenda ini juga diharapkan mampu mendongkrak sektor pariwisata serta memutar roda perekonomian masyarakat lokal. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow