Nasib SPPG Kebondalem Pacitan Pasca Hasil Lab Keluar Belum Jelas
SPPG Kebondalem Pacitan masih ditutup usai temuan bakteri pada makanan. Dinkes ajukan perbaikan ke BGN, nasib operasional menunggu keputusan lanjutan.
PACITAN - Meski hasil uji laboratorium sampel makanan telah keluar sejak 17 April 2026, status operasional SPPG Kebondalem, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, apakah layanan tersebut dihentikan permanen atau kembali beroperasi belum ada kejelasan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan justru mengajukan rekomendasi perbaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai tindak lanjut temuan tersebut.
“Masih ditutup sementara. Kami sudah mengajukan rekomendasi perbaikan ke BGN. Nanti tergantung BGN kapan bisa dibuka kembali,” ujar Kepala Dinkes Pacitan, Daru Mustikoaji, Senin (20/4/2026).
Menurut Daru, laporan hasil pemeriksaan telah disampaikan melalui satuan tugas (satgas) untuk diteruskan ke BGN.
“Sudah kami laporkan ke satgas untuk dilanjutkan ke BGN,” imbuhnya.
Dari hasil uji laboratorium, ditemukan adanya kontaminasi bakteri pada sejumlah sampel makanan yang diproduksi SPPG Kebondalem.
Pemeriksaan dilakukan selama lima hari di laboratorium di Surabaya dan Yogyakarta terhadap sampel yang diambil pada 8 hingga 10 April 2026.
Kepala Dinkes Pacitan, Daru Mustikoaji. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
“Berdasarkan hasil laboratorium, sampel makanan yang diambil pada rentang 8 sampai 10 April ditemukan mengandung bakteri. Termasuk juga air yang diuji di Labkesda Pacitan,” jelas Daru.
Ia menyebut, beberapa menu yang sempat dikonsumsi siswa terindikasi terkontaminasi, di antaranya sayur sawi dan edamame.
“Yang terdeteksi mengandung bakteri antara lain sawi dan edamame,” katanya.
Akibatnya, para siswa mengalami berbagai gejala, mulai dari mual, muntah, diare, hingga pusing.
“Bisa dipastikan, makanan yang terkontaminasi tersebut menjadi penyebab munculnya gejala pada siswa,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Sejahtera Kebondalem, Sugeng Priyatmoko, menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi.
“Saya pribadi memohon maaf atas kejadian yang menimpa siswa,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Ia juga menyatakan kesiapan bertanggung jawab apabila terbukti makanan yang diproduksi pihaknya menjadi penyebab kejadian tersebut.
“Jika terbukti berasal dari makanan yang kami produksi, tentu ada prosedur dari BGN. Pada prinsipnya, siswa yang terdampak, termasuk biaya pengobatan, akan ditanggung,” ucapnya.
Sebelumnya, dari total 158 siswa terdampak, sebanyak 28 siswa sempat menjalani perawatan medis. Seluruhnya kini telah dinyatakan sembuh.
Untuk sementara, operasional SPPG Kebondalem masih dihentikan sambil menunggu hasil evaluasi dan keputusan lebih lanjut dari BGN. (*)
Apa Reaksi Anda?