Mensos Tekankan Jangan Sampai Ada 3 Dosa Pendidikan di Sekolah Rakyat
Mensos RI Saifullah Yusuf menegaskan Sekolah Rakyat harus menjadi ruang belajar yang aman dan ramah bagi seluruh peserta didik.
MALANG - Menteri Sosial (Mensos) RI Saifullah Yusuf menegaskan Sekolah Rakyat harus menjadi ruang belajar yang aman dan ramah bagi seluruh peserta didik. Karena itu, ia mengingatkan seluruh kepala sekolah dan tenaga pendidik untuk memastikan tidak terjadi tiga dosa besar pendidikan. yakni perundungan (bullying), kekerasan, dan intoleransi.
Pesan tersebut disampaikan Gus Ipul saat membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Tahap II secara nasional melalui konferensi video, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, keberhasilan MPLS tidak hanya diukur dari lancarnya proses pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga dari kemampuan sekolah menciptakan lingkungan yang aman sejak hari pertama siswa datang.
"Perlu ditegaskan bahwa MPLS harus ramah anak. Kepada seluruh kepala sekolah dan tenaga pendidik, saya titipkan pesan yang tidak boleh ditawar-tawar. MPLS ini harus ramah anak," ujar Gus Ipul.
Ia meminta seluruh penyelenggara Sekolah Rakyat mengawal proses pembelajaran agar terbebas dari tiga persoalan yang selama ini menjadi tantangan dunia pendidikan.
"Jangan sampai terjadi tiga hal di lingkungan Sekolah Rakyat yang dulu sering disebut sebagai tiga dosa besar dunia pendidikan. Yang pertama perundungan atau bullying, kedua kekerasan, baik fisik maupun seksual, dan ketiga adalah intoleransi," tegasnya.
Menurut Gus Ipul, Sekolah Rakyat dibangun untuk memberikan kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang selama ini sulit mengakses layanan pendidikan berkualitas. Karena itu, sekolah tidak boleh menjadi tempat munculnya diskriminasi atau perlakuan yang menyakiti peserta didik.
"Tidak ada satu pun anak yang boleh pulang membawa luka dari sekolah yang seharusnya menjadi rumah kedua mereka. Sekolah Rakyat hadir untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang selama ini kerap terpinggirkan. Jangan sampai di tempat inilah mereka justru mengalami peminggiran yang baru," katanya.
Selain menekankan pentingnya sekolah yang aman, Mensos juga meminta setiap sekolah memanfaatkan MPLS sebagai momentum memetakan kondisi awal seluruh peserta didik.
Ia menyebut proses tersebut menjadi dasar dalam menyusun pola pembelajaran dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
"MPLS adalah momen paling penting untuk mencari baseline, titik nol kondisi setiap anak. Mulai dari kesehatan fisiknya, kondisi psikologisnya, hingga minat dan bakatnya. Semua itu harus terukur, bukan perkiraan," ujarnya.
Menurut Gus Ipul, hasil pemetaan tersebut akan menjadi acuan dalam merancang berbagai intervensi pendidikan, mulai dari pembinaan karakter, layanan kesehatan, hingga pengembangan potensi siswa.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap setiap peserta didik mendapatkan pendampingan yang lebih tepat sasaran selama menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
"Dari titik nol inilah kita merancang intervensi yang tepat sasaran bagi setiap anak sesuai kebutuhan masing-masing. Karena tujuan akhir kita jelas, tidak boleh bergeser. Anak-anak Sekolah Rakyat harus lulus menjadi pribadi yang pintar secara akademik, berkarakter kuat, dan terampil untuk menghadapi kehidupan," pungkasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?