Menjaga Nilai, Meneguhkan Arah: Etika, Kepercayaan, dan Masa Depan Ekosistem IRTP

Di tengah meningkatnya kompleksitas industri pangan skala rumah tangga, satu hal kerap luput dari perhatian: keberlanjutan usaha tidak semata ditentukan oleh kemampuan produksi atau strategi pemasaran

April 28, 2026 - 17:00
Menjaga Nilai, Meneguhkan Arah: Etika, Kepercayaan, dan Masa Depan Ekosistem IRTP

MALANG - Di tengah meningkatnya kompleksitas industri pangan skala rumah tangga, satu hal kerap luput dari perhatian: keberlanjutan usaha tidak semata ditentukan oleh kemampuan produksi atau strategi pemasaran, melainkan oleh kualitas nilai yang dijaga secara konsisten.

Hal ini mengemuka dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyuluhan Keamanan Pangan bagi pelaku Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Malang melalui program DAK Non Fisik BOK BPOM Tahun Anggaran 2026. Lebih dari sekadar agenda rutin, kegiatan ini menandai tahun kedua kolaborasi strategis antara Dr. Sama’ Iradat Tito, dosen FMIPA Universitas Islam Malang (UNISMA), dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang—sebuah kesinambungan yang mencerminkan kepercayaan, relevansi, dan konsistensi kontribusi dalam penguatan ekosistem IRTP.

Keberlanjutan kolaborasi ini bukan tanpa alasan. Ia menjadi indikator bahwa pendekatan yang dibangun tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi mampu menghadirkan dampak yang dirasakan—baik dalam peningkatan kapasitas teknis, maupun dalam pembentukan cara pandang pelaku usaha terhadap nilai, etika, dan tanggung jawab.

Dalam forum tersebut, Dr. Tito menempatkan etika bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai fondasi. Ia menegaskan bahwa dalam praktik usaha, kepercayaan merupakan kapital yang tidak tercatat dalam laporan keuangan, tetapi justru menentukan umur sebuah bisnis.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

“Produk bisa ditiru, strategi bisa disalin. Tetapi kepercayaan hanya lahir dari konsistensi nilai,” ungkapnya.

Di tengah percepatan digitalisasi dan dorongan ekspansi pasar, keberhasilan kerap diukur secara instan—melalui angka penjualan, jangkauan, dan pertumbuhan jangka pendek. Namun, yang sering terabaikan adalah disiplin dalam hal-hal mendasar: menjaga kualitas secara konsisten, kejujuran dalam proses, serta tanggung jawab terhadap konsumen.

Di sinilah paradoks itu muncul: banyak usaha tidak runtuh karena gagal berkembang, melainkan karena gagal menjaga fondasi ketika mulai berkembang.

Selain etika, penguatan jejaring usaha juga menjadi perhatian. Dalam ekosistem yang semakin terhubung, kolaborasi bukan lagi pilihan strategis, melainkan kebutuhan struktural. Usaha yang tumbuh bersama cenderung memiliki ketahanan yang lebih kuat dibandingkan usaha yang berjalan sendiri.

Lebih jauh, pendekatan yang dibawa Dr. Tito mencerminkan model kewirausahaan berbasis ilmu (science-based entrepreneurship), yang mengintegrasikan riset, praktik, dan nilai dalam satu ekosistem yang utuh. Dalam kerangka ini, bisnis tidak hanya diposisikan sebagai instrumen ekonomi, tetapi juga sebagai ruang pembentukan kepercayaan dan kebermanfaatan.

Aspek ini menjadi penting dalam konteks branding, khususnya bagi pelaku IRTP. Di tengah pasar yang semakin padat, diferensiasi tidak lagi cukup dibangun melalui kemasan atau harga. Nilai, integritas, dan rekam jejak menjadi identitas yang membedakan—membentuk trust-based branding: bukan sekadar dikenal, tetapi dipercaya. Bimtek

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kegiatan ini sekaligus menegaskan pergeseran paradigma dalam pembinaan usaha: dari pendekatan teknis menuju pendekatan yang lebih komprehensif—yang memadukan kapasitas produksi, strategi pasar, dan karakter pelaku usaha.

Pada akhirnya, terdapat satu pesan moral yang kerap terlewatkan dalam dinamika usaha modern: tidak semua hal yang bisa dilakukan, layak untuk dilakukan. Di sinilah etika berfungsi sebagai batas sekaligus penuntun arah.

Di tengah perubahan yang terus berlangsung, usaha yang bertahan bukan hanya yang adaptif terhadap pasar, tetapi yang teguh dalam menjaga nilai. Pada titik tertentu, pasar tidak hanya menilai apa yang dijual, tetapi juga siapa yang menjualnya—dan nilai apa yang ia bawa.

Dan mungkin di sinilah makna terdalam dari kolaborasi yang terus dijaga ini: bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa banyak usaha yang tumbuh, tetapi dari seberapa kuat nilai yang mengakar di dalamnya.

Ketika dijalankan dengan landasan nilai, orientasi bisnis tidak lagi berhenti pada keuntungan semata (profit only), melainkan berkembang menjadi keuntungan yang membawa dampak (profit with purpose). Bisnis pun tidak sekadar menjadi alat pertumbuhan ekonomi, tetapi sarana menghadirkan kebaikan—membangun kepercayaan, memperkuat masyarakat, dan memberi makna yang lebih luas bagi kehidupan bersama.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow