Menbud Fadli Zon Sebut Rumah Sastra Ahmad Tohari sebagai Kantong Budaya

Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Rumah Sastra Ahmad Tohari di Banyumas sebagai pusat literasi dan kantong budaya. Langkah ini menjadi bagian dari program strategis pemerintah dalam merevitalisa

Juni 28, 2026 - 20:01
Menbud Fadli Zon Sebut Rumah Sastra Ahmad Tohari sebagai Kantong Budaya
JAKARTA -

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai Rumah Sastra Ahmad Tohari memiliki peran strategis sebagai pusat literasi. Fasilitas ini tidak hanya berfungsi menjaga warisan intelektual sang sastrawan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan inspirasi bagi masyarakat luas.

"Setiap hari, perpustakaan dan rumah baca tersebut dikunjungi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang memanfaatkan koleksi dan berbagai aktivitas literasi yang diselenggarakan," ujar Fadli Zon dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu (28/6/2026).

Rumah Sastra Ahmad Tohari berlokasi di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Peresmian tempat ini menjadi wujud komitmen berkelanjutan Kementerian Kebudayaan dalam mendukung inisiatif pemajuan kebudayaan yang berbasis pada komunitas.

"Rumah baca perpustakaan Ahmad Tohari ini bisa menjadi perpustakaan yang hidup, bisa menjadi kantong budaya dan kegiatan-kegiatan kebudayaan yang terus berkesinambungan,” kata Fadli Zon.

Fadli menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menghadirkan program-program berdampak nyata bagi pemajuan kebudayaan, salah satunya melalui revitalisasi aset budaya.

"Meskipun kita sedang melakukan efisiensi, kita bisa melakukan revitalisasi di sekitar 159 aset budaya, baik situs cagar budaya maupun yang merupakan kantong budaya. Bapak Ahmad Tohari ini menginisiasi satu kantong budaya yang menggerakan generasi muda untuk membaca, semacam pusat literasi," tuturnya.

Ahmad Tohari pun menyambut baik langkah revitalisasi tersebut. Dalam sambutannya, penulis novel legendaris ini menceritakan tingginya antusiasme pengunjung serta banyaknya diskusi lintas generasi yang lahir dari perpustakaan yang dikelolanya tersebut.

Sebagai sastrawan senior, Ahmad Tohari telah berkontribusi besar dalam memajukan sastra Indonesia melalui berbagai karya monumental. Salah satunya adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang mengangkat realitas kehidupan masyarakat Banyumas, nilai-nilai kemanusiaan, tradisi lokal, hingga kekhasan bahasa Banyumasan. Adaptasi novel tersebut ke dalam film Sang Penari juga berhasil memperluas apresiasi publik terhadap kekayaan budaya lokal.

Fadli Zon menambahkan, semangat yang dibangun oleh Ahmad Tohari sejalan dengan amanat Pasal 32 Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yaitu memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia. Melalui karya sastra, Ahmad Tohari dinilai telah menjalankan misi kebudayaan dengan menghadirkan nilai kemanusiaan, identitas bangsa, dan kearifan lokal.

Menurut Fadli, sastra merupakan salah satu ekspresi budaya tertua yang berperan penting dalam merekam sejarah, membangun karakter bangsa, sekaligus memperkuat diplomasi budaya. Namun, ia mengakui saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan berupa belum optimalnya keterhubungan karya sastra nasional dengan pembaca internasional.

Merespons tantangan tersebut, Kementerian Kebudayaan meluncurkan sejumlah program strategis untuk memperkuat ekosistem sastra nasional. Program-program tersebut meliputi Laboratorium Penerjemah dan Promotor Sastra, Penerjemahan Karya Sastra, Penguatan Komunitas dan Festival Sastra, Manajemen Talenta Nasional Bidang Sastra, serta Pengembangan Sastra Berbasis Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP). (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow