Mahasiswa UNHASY Tebuireng Pasang 40 Reflektor di Jalur Rawan Kecelakaan Jiporapah Jombang
Mahasiswa KDLK MBKM UNHASY Jombang memasang puluhan reflektor jalan di Jalur Brangkal, Desa Jiporapah, Kecamatan Plandaan, guna menekan angka kecelakaan akibat minimnya penerangan.
JOMBANG - Minimnya fasilitas penerangan di Jalur Brangkal, Desa Jiporapah, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, memicu kekhawatiran warga akan kerawanan kecelakaan pada malam hari. Kondisi ini mendorong mahasiswa Universitas Hasyim Asy'ari (UNHASY) Tebuireng, Jombang, untuk menghadirkan solusi taktis bagi keselamatan pengguna jalan.
Melalui program Kuliah Desa dan Lapangan Kerja (KDLK) MBKM, Kelompok 11 UNHASY memasang puluhan reflektor jalan di ruas penghubung Dusun Brangkal dan Dusun Jiporapah. Program yang dilaksanakan pada 16–17 Mei 2026 tersebut menyasar persoalan infrastruktur desa yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
Jalur Brangkal merupakan akses utama yang setiap hari dilalui lebih dari 150 pengguna jalan. Namun, kondisi jalan yang gelap tanpa Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) membuat pengendara kerap kesulitan mengenali arah jalan, terutama di sejumlah tikungan tajam di sekitar wilayah Dusun Brangkal.
Berdasarkan keterangan warga setempat, pada tahun 2025 lalu sempat terjadi kecelakaan ketika seorang pengendara sepeda motor terperosok ke area persawahan akibat tidak menyadari adanya tikungan tajam di tengah kondisi jalan yang gelap.
Merespons kondisi tersebut, mahasiswa KDLK MBKM UNHASY memasang 40 unit reflektor jalan di sepanjang jalur kurang lebih 200 meter, dengan jarak antar-reflektor sekitar lima meter.
Alat penanda jalan ini dibuat secara mandiri menggunakan pipa yang diperkuat dengan campuran cor semen agar kokoh. Pada bagian luar, dipasang stiker reflektif yang mampu memantulkan cahaya lampu kendaraan untuk membantu pengendara mengenali jalur saat malam hari.
Ketua Kelompok 11 KDLK MBKM UNHASY, Ahmad Nahidl El Muttaqin Billah, menjelaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi alasan utama pemilihan program kerja tersebut.
"Kami melihat jalur ini merupakan akses vital bagi warga, tetapi belum memiliki penerangan maupun penanda jalan yang memadai. Melalui pemasangan reflektor ini, kami berharap dapat membantu mengurangi risiko kecelakaan dan meningkatkan rasa aman masyarakat ketika melintas pada malam hari," ujarnya saat dikonfirmasi TIMES Indonesia, Rabu (3/6/2026).
Program pengabdian masyarakat ini melibatkan 27 mahasiswa. Selama proses pemasangan, mereka mendapat dukungan dari warga setempat yang ikut bergotong royong di lapangan.
Keberadaan reflektor jalan ini mendapat respons positif dari masyarakat. Salah satunya disampaikan oleh Budi, petani pisang asal Dusun Brangkal, yang merasa terbantu saat melintas pada malam hari.
"Kalau malam di sini memang sangat gelap. Sekarang pengguna jalan bisa lebih mudah melihat tikungan dan arah jalan. Kami sangat mengapresiasi mahasiswa yang peduli terhadap kondisi desa," katanya.
Dukungan serupa juga datang dari Pemerintah Desa Jiporapah. Kepala Desa Jiporapah, Hadi Sucipto, memberikan izin sekaligus mengapresiasi kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dalam meningkatkan keselamatan lingkungan ini.
Meskipun belum menggantikan fungsi LPJU secara menyeluruh, keberadaan reflektor dinilai menjadi solusi cepat yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.
"Pantulan cahaya kendaraan yang mengenai reflektor kini menjadi penanda penting bagi pengendara untuk mengenali jalur serta mengantisipasi tikungan saat melintas pada malam hari," ungkap Hadi Sucipto.
Menurut Hadi, lewat program ini mahasiswa UNHASY tidak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga meninggalkan manfaat nyata pasca-masa kuliah kerja nyata berakhir. Di tengah keterbatasan fasilitas desa, inovasi sederhana ini terbukti memberikan dampak signifikan.
"Sebab, ketika satu reflektor mampu membantu mencegah satu kecelakaan, maka di situlah nilai pengabdian kepada masyarakat menemukan makna sesungguhnya," pungkasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?