Korban Serangan Israel di Lebanon Tembus 3.269 Jiwa

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat korban tewas akibat serangan Israel mencapai 3.269 orang, meski gencatan senjata telah diumumkan.

Mei 28, 2026 - 11:31
Korban Serangan Israel di Lebanon Tembus 3.269 Jiwa

JAKARTA - Konflik berkepanjangan antara Israel dan Lebanon terus memakan korban sipil dalam jumlah besar. Meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan sejak April lalu, serangan udara dan operasi militer masih berlangsung di berbagai wilayah Lebanon selatan dan timur.

Kementerian Kesehatan Lebanon pada Rabu (27/5/2026) melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan Israel kini mencapai 3.269 orang, sementara 9.840 lainnya mengalami luka-luka.

Dalam 24 jam terakhir saja, sebanyak 56 orang dilaporkan tewas dan 103 lainnya terluka.

Serangan Menyasar Lebanon Selatan dan Bekaa

Menurut sumber militer Lebanon kepada media Rusia RIA Novosti, pesawat tempur Israel menyerang sedikitnya 47 kota dan desa pada Rabu.

Serangan disebut banyak menyasar wilayah selatan Lebanon seperti Nabatieh dan Tyre, serta sejumlah daerah di Lembah Bekaa.

Wilayah-wilayah tersebut selama ini menjadi titik utama ketegangan antara militer Israel dan kelompok Hizbullah.

Meski skala serangan terus meningkat, Israel belum menghentikan operasi militernya walaupun sebelumnya telah diumumkan kesepakatan gencatan senjata bersama Lebanon.

Gencatan Senjata Belum Menghentikan Konflik

Pada 16 April lalu, Lebanon dan Israel untuk pertama kalinya menggelar pembicaraan langsung di tingkat duta besar di Washington.

Usai pertemuan tersebut, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Namun di lapangan, situasi justru masih jauh dari stabil.

Israel disebut tetap melancarkan serangan harian ke sejumlah permukiman di Lebanon selatan dan mempertahankan kendali tembakan di kawasan perbatasan.

Sebagai respons, Hizbullah juga terus melakukan operasi militer terhadap pasukan Israel.

Konflik terbaru ini dipicu meningkatnya eskalasi regional setelah Hizbullah meluncurkan serangan roket dan drone ke Israel pada 2 Maret, di tengah perang antara AS, Israel, dan Iran.

Lebanon Tegaskan Bukan Menyerah

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menegaskan bahwa keputusan pemerintah Lebanon untuk bernegosiasi dengan Israel bukan bentuk penyerahan diri.

Menurut Aoun, negosiasi dilakukan untuk mempertahankan hak Lebanon atas wilayah dan kedaulatannya.

“Jalan menuju penarikan pasukan Israel secara penuh tetap menjadi tuntutan nasional yang teguh,” ujar Aoun dalam pidato peringatan Hari Perlawanan dan Pembebasan Lebanon Selatan.

Hari tersebut diperingati setiap 25 Mei untuk mengenang penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan pada tahun 2000.

Konflik Lama yang Kembali Membara

Pendudukan Israel di Lebanon selatan bermula sejak 1978 melalui Operasi Litani dan semakin menguat setelah invasi tahun 1982.

Meski Israel telah menarik pasukannya pada 2000, kawasan perbatasan tetap menjadi titik konflik berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah.

Kini, di tengah ketidakpastian diplomasi regional dan keterlibatan AS serta Iran, Lebanon kembali berada dalam pusaran konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.

Meningkatnya korban sipil memperlihatkan bahwa gencatan senjata formal belum cukup menghentikan kekerasan di lapangan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow