Iran Buka Selat Hormuz Saat Gencatan Senjata, AS Tetap Berlakukan Blokade Laut
Iran membuka Selat Hormuz saat gencatan senjata, namun AS tetap memberlakukan blokade laut. Negosiasi kedua dijadwalkan berlangsung 19 April 2026.
JAKARTA - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa lalu lintas komersial di Selat Hormuz dibuka sepenuhnya selama masa gencatan senjata berlangsung.
“Mengingat gencatan senjata di Lebanon, lalu lintas bagi semua kapal komersial di Selat Hormuz dinyatakan dibuka sepenuhnya selama waktu gencatan senjata yang tersisa,” ujar Araghchi melalui platform X, Jumat (17/4/2026).
Ia menambahkan, pembukaan jalur pelayaran tersebut telah dikoordinasikan dengan otoritas pelabuhan dan kemaritiman Iran.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan apresiasi melalui Truth Social.
“Iran baru saja mengumumkan bahwa Selat Iran terbuka sepenuhnya dan siap untuk lalu lintas penuh. Terima kasih!” tulis Trump.
Namun, tidak lama kemudian, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap melanjutkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran hingga proses negosiasi selesai sepenuhnya.
“Blokade laut akan tetap diberlakukan secara penuh terhadap Iran hingga transaksi dengan Iran 100 persen selesai,” katanya.
Meski demikian, Trump menyatakan optimistis bahwa negosiasi tidak akan berlangsung lama karena sebagian besar poin perundingan telah dibahas.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menggelar perundingan putaran pertama di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026. Namun, Wakil Presiden AS, J. D. Vance, menyatakan bahwa perundingan tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
Setelah kegagalan tersebut, Amerika Serikat mengerahkan Angkatan Laut untuk memblokade Selat Hormuz. Babak kedua negosiasi dijadwalkan berlangsung kembali di Islamabad pada 19 April 2026.
Di sisi lain, negara-negara Eropa mulai menggalang upaya bersama untuk menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut. Pertemuan Koalisi negara sukarela (Coalition of the Willing) digelar di Paris, dipimpin Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Pertemuan tersebut juga dihadiri Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni serta Kanselir Jerman Friedrich Merz, sebagai upaya memperkuat respons Eropa terhadap krisis di Timur Tengah.
Sumber Istana Élysée menyebut, konflik Iran menambah tekanan bagi Eropa di tengah dampak perang Rusia-Ukraina, sehingga diperlukan langkah bersama untuk menjaga stabilitas kawasan.
Koalisi tersebut juga membahas rencana misi keamanan di Selat Hormuz, termasuk memastikan jalur bebas ranjau serta tidak adanya pungutan bagi kapal yang melintas.
Sementara itu, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menegaskan bahwa negaranya tidak menerima permintaan tambahan dari Amerika Serikat terkait operasi di kawasan tersebut.
“Tidak ada permintaan baru sama sekali,” ujar Albanese.
Ia menambahkan, Australia memiliki kepentingan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka karena jalur tersebut dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Sebelumnya, Iran sempat membatasi akses ke Selat Hormuz sejak konflik dengan Amerika Serikat dan Israel meningkat pada akhir Februari 2026. (*)
Apa Reaksi Anda?