Gaya Baru Kalapas Malang, Bulan Membangun SDM Jadi Senjata Bereskan Lapas dari Dalam
Datang dengan gaya kepemimpinan berbeda, Kepala Lapas Kelas I Malang, Christo Toar, langsung tancap gas membenahi internal.
MALANG - Datang dengan gaya kepemimpinan berbeda, Kepala Lapas Kelas I Malang, Christo Toar, langsung tancap gas membenahi internal. Tanpa menunggu lama, ia mencanangkan program “Bulan Membangun SDM” mulai 1 Mei 2025 sebagai fondasi perubahan menyeluruh di tubuh lapas.
“Setiap pemimpin punya cara berbeda, dan saya akan pakai pendekatan yang berbeda,” ujar Christo, Kamis (23/4/2026).
Langkah ini bukan tanpa alasan. Christo melihat akar persoalan di lapas kerap bermula dari minimnya pembekalan petugas baru. Karena itu, ia menjadikan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai prioritas utama, lewat pelatihan disiplin dan pemahaman tugas yang lebih ketat.
Penguatan Standar Operasional Prosedur (SOP) menjadi fokus berikutnya, terutama dalam pengawasan keluar-masuk orang ke dalam lapas. Targetnya jelas: menutup celah penyelundupan barang terlarang.
“HP dan narkoba itu musuh utama. SOP harus diperkuat,” ungkapnya.
Pengalaman memimpin di Karawang selama dua tahun lima bulan menjadi bekal penting. Ia mengaku sempat menghadapi resistensi besar saat mencoba mengubah budaya kerja. Namun perlahan, pola pikir petugas berhasil digeser—dari yang ingin dilayani menjadi pelayan masyarakat tanpa pungutan.
Semangat perubahan itu ia bawa ke Malang lewat slogan #AyoBerubah dan #SorryGueBeda. Ditambah pengalamannya di Ombudsman pada 2017–2020, Christo menegaskan pentingnya pelayanan publik yang bersih dan berintegritas.
Ia juga memastikan hak warga binaan tetap dijaga. Namun, pelanggaran tidak akan ditoleransi. “Kalau tidak bisa dibina di sini, saya tidak ragu untuk memindahkan ke lapas lain,” ujarnya tegas.
Soal integritas, ia mengingatkan bahwa melayani bukan berarti menuruti semua keinginan, apalagi jika melanggar aturan seperti penyelundupan ponsel. Ia mengakui praktik tersebut masih mungkin terjadi, namun komitmennya jelas: perang terhadap peredaran HP ilegal dan narkoba akan terus digencarkan.
Di tengah keterbatasan, tantangan berat juga dihadapi. Data per 22 April 2026 mencatat hanya 15 petugas yang harus mengawasi sekitar 2.414 warga binaan. Meski timpang, Christo optimistis pembenahan tetap bisa berjalan melalui kolaborasi internal.
“Fokus awal kami tetap ke dalam. SDM harus kuat dulu,” pungkasnya.(*)
Apa Reaksi Anda?