Edukasi Tak Cuma Seremonial, Polda Sumbar Serius Perangi 'Silent Killer' pada Personel
Sebanyak 84 peserta dari unsur Polri dan ASN diajak 'membongkar' fakta-fakta krusial tentang dua jenis kanker paling mematikan bagi perempuan.
PADANG - Di balik rutinitas tugas yang padat dan penuh tekanan, ancaman penyakit mematikan kerap luput dari perhatian, tak terkecuali untuk personel Polri di Polda Sumbar (Sumatera Barat).
Menyadari hal itu, Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sumbar tidak sekadar menggelar penyuluhan biasa, tetapi membangun kesadaran kolektif tentang bahaya laten kanker payudara (Ca Mammae) dan kanker serviks (Ca Serviks) yang kerap datang tanpa gejala awal yang jelas.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai IV Gedung Hoegeng, Mapolda Sumbar, Selasa (5/5/2026), menjadi lebih dari sekadar agenda formal.
Selama tiga jam, sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, sebanyak 84 peserta dari unsur Polri dan ASN diajak 'membongkar' fakta-fakta krusial tentang dua jenis kanker paling mematikan bagi perempuan tersebut.
Hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. dr. Wisma Arif Harahap, SpB (K), M.Kes memaparkan secara lugas bahwa kanker payudara masih menjadi penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia.
Ia menekankan bahwa sebagian besar kasus ditemukan dalam kondisi stadium lanjut—situasi yang seharusnya bisa dicegah melalui deteksi dini.
“Masalahnya bukan pada tidak adanya pengobatan, tetapi pada keterlambatan kesadaran. Banyak pasien datang ketika kanker sudah berkembang jauh,” ungkapnya.
Sementara itu, dr. Primadella, SpOG menggarisbawahi bahwa kanker serviks memiliki karakter berbeda: berkembang perlahan, tetapi mematikan jika diabaikan.
Ia menekankan pentingnya skrining rutin seperti pap smear dan vaksinasi HPV sebagai langkah preventif yang terbukti efektif.
Plt Kabiddokkes Polda Sumbar, AKBP dr. Faisal, dalam pernyataannya menegaskan bahwa institusi kepolisian tidak bisa hanya fokus pada kesiapan fisik dan operasional semata, tetapi juga harus menjamin kesehatan jangka panjang personelnya.
“Kita tidak ingin personel kita tangguh di lapangan, tetapi rapuh dari dalam. Kanker adalah ‘silent killer’ yang tidak bisa dilawan tanpa kesadaran dan pengetahuan,” tegasnya.
Menurutnya, pendekatan preventif harus menjadi budaya, bukan sekadar imbauan.
Ia menyoroti masih rendahnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan rutin, baik secara mandiri maupun medis, sebagai salah satu tantangan utama.
Kegiatan ini pun berlangsung dinamis. Sesi tanya jawab dimanfaatkan peserta untuk menggali lebih dalam, mulai dari gejala awal yang sering diabaikan hingga pola hidup yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kanker.
Banyak peserta mengaku baru memahami bahwa faktor gaya hidup, stres, hingga kurangnya pemeriksaan berkala menjadi pemicu yang tidak disadari.
Lebih jauh, penyuluhan ini menjadi refleksi bahwa ancaman kesehatan tidak mengenal profesi. Di tengah tuntutan tugas yang tinggi, kesehatan sering kali menjadi prioritas kedua—hingga akhirnya terlambat.
Melalui kegiatan ini, Biddokkes Polda Sumbar menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjaga kesehatan personel secara kuratif, tetapi juga membangun sistem pencegahan yang kuat.
Sebab, personel yang sehat bukan hanya aset institusi, tetapi juga benteng utama dalam pelayanan kepada masyarakat.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa perang melawan kanker tidak cukup dilakukan di rumah sakit, tetapi harus dimulai dari kesadaran—bahkan dari lingkungan kerja sekalipun. (*)
Apa Reaksi Anda?