Waspada Ancaman Hantavirus, Pakar Kesehatan ITS Ingatkan Pentingnya Sanitasi Lingkungan
Dosen FKK ITS, dr. Zulistian Nurul Hidayati, Sp.PD., mengimbau kewaspadaan terhadap Hantavirus pasca kasus di kapal pesiar Argentina.
SURABAYA - Dunia internasional tengah dikejutkan dengan munculnya kasus hantavirus di atas kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina. Insiden ini memicu kekhawatiran global setelah sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akut, bahkan hingga menyebabkan korban jiwa.
Di dalam negeri, ancaman ini bukan sekadar isu luar negeri. Tercatat sebanyak 23 kasus hantavirus telah teridentifikasi pada manusia di Indonesia sejak tahun 2024. Menanggapi fenomena ini, dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Zulistian Nurul Hidayati dr SpPD, mengimbau masyarakat untuk kembali meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis ini.
Menurut Zulistian, hantavirus memiliki mekanisme penularan yang sangat spesifik melalui hewan pengerat, terutama tikus. Interaksi manusia dengan kotoran tikus yang telah terkontaminasi menjadi jembatan utama penyebaran virus ini.
“Manusia dapat terinfeksi melalui udara dengan terhirupnya partikel pada kotoran tikus dan juga kontak langsung dengan hewan pengerat,” jelas Dokter Spesialis Penyakit Dalam tersebut dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026)
Zulistian menekankan bahwa tantangan terbesar dalam menghadapi hantavirus adalah gejalanya yang menyerupai flu biasa (flu-like symptoms), seperti batuk, demam, dan nyeri otot. Hal ini seringkali membuat pasien terlambat menyadari tingkat keparahan infeksi yang dialaminya.
“Oleh karena itu, tidak bisa hanya diagnosis dari gejala klinis, perlu adanya pemeriksaan diagnostik penunjang dengan pemeriksaan di lab,” tambahnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa paparan virus ini dapat berujung pada dua kondisi fatal: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memicu demam berdarah disertai gangguan ginjal akut.
Meski memiliki tingkat fatalitas yang tinggi, masyarakat diminta tidak panik secara berlebihan. Zulistian menegaskan bahwa karakteristik penyebaran hantavirus tidak semasif COVID-19. Kunci utamanya terletak pada kebersihan lingkungan, terutama di wilayah pemukiman padat penduduk dengan sanitasi yang buruk.
“Beberapa langkah perlindungan dapat dengan menggunakan masker dan sarung tangan agar terhindar dari kontak langsung dengan kotoran tikus,” pungkasnya menutup edukasi tersebut. (*)
Apa Reaksi Anda?