Tanam Raya Tebu Bongkar Ratoon 2026 di Kabupaten Malang Dimulai September
Program peningkatan produktivitas tebu itu dijadwalkan mulai berlangsung secara masif pada September mendatang, dengan target lahan mencapai 7.500 hektare.
MALANG - Pemerintah Kabupaten Malang (Pemkab Malang) mulai menyiapkan musim tanam raya tebu untuk program bongkar ratoon tahun 2026 di Kabupaten Malang.
Program peningkatan produktivitas tebu itu dijadwalkan mulai berlangsung secara masif pada September mendatang, dengan target lahan mencapai 7.500 hektare.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Avicenna M. Saniputera mengatakan, saat ini tahapan persiapan mulai dilakukan, termasuk pengolahan lahan yang direncanakan dimulai pada Agustus 2026.
“Tebu ini kan melihat musim. Insya Allah nanti musim tanam raya itu sebenarnya sudah ada bulan yang nanam. Tapi mungkin secara masif nanti mulai sekitar bulan September. Jadi Agustus kita sudah olah lahan, September nanti mulai musim tanam rayanya,” ujar Avicenna.
Ia menargetkan seluruh proses penanaman program bongkar ratoon dapat rampung pada akhir November 2026. Dengan persiapan yang lebih matang, pihaknya berharap kendala keterlambatan pelaksanaan seperti tahun sebelumnya bisa ditekan.
“Mudah-mudahan nanti dengan ada persiapannya lebih bagus ini, keterlambatan-keterlambatan seperti tahun yang lalu itu sudah bisa dikurangi,” katanya.
Program bongkar ratoon sendiri merupakan program peremajaan tanaman tebu dengan cara membongkar tanaman lama yang produktivitasnya mulai menurun, kemudian diganti dengan bibit baru yang lebih unggul.
Program ini dilakukan untuk meningkatkan hasil produksi tebu sekaligus memperbaiki kualitas tanaman.
Dalam program tersebut, petani biasanya mendapatkan bantuan berupa bibit tebu unggul, dukungan biaya tenaga kerja atau Hari Orang Kerja (HOK), hingga pendampingan teknis dari pemerintah dan penyuluh pertanian.
Menurut Avicenna, tidak semua lahan bisa masuk dalam program bongkar ratoon. Salah satu syarat utama adalah kondisi lahan yang subur dan memiliki ketersediaan air cukup, terutama pada fase awal pertumbuhan tanaman.
“Yang penting lahannya subur, kemudian air cukup kalau untuk bibit ini. Makanya kenapa lahan di sini karena airnya masih cukup. Karena pada saat dua bulan musim tanam awal itu harus air,” jelasnya.
Ia mengatakan, ketersediaan air menjadi faktor penting karena tanaman tebu membutuhkan pasokan air cukup pada masa awal tanam sebelum memasuki musim hujan.
Di sisi lain, Pemkab Malang juga mewaspadai potensi ancaman El Nino yang diperkirakan berdampak terhadap musim tanam tahun ini.
Meski demikian, kondisi cuaca di Kabupaten Malang hingga pertengahan Mei 2026 masih relatif aman karena curah hujan masih terjadi di sejumlah wilayah.
“Kalau prediksi BMKG sebentar lagi kita masuk pada ancaman El Nino. Berarti hujan sudah mulai terakhir ini, walaupun kenyataannya di Malang masih ada. Hingga pertengahan Mei ini curah hujan masih ada di Kabupaten Malang,” tutur Avicenna.
DTPHP Kabupaten Malang optimistis target program bongkar ratoon seluas 7.500 hektare tahun ini dapat terealisasi. Program tersebut juga didukung keterlibatan koperasi petani dari sejumlah pabrik gula besar di Malang Raya untuk memperkuat produktivitas tebu daerah. (*)
Apa Reaksi Anda?