Hari Lingkungan Hidup, Puluhan Pemuda Difabel Netra Tanam Mangrove di Makassar

Sebanyak 50 pemuda difabel netra di Makassar ikuti Green Justice Youth Program. Aksi tanam mangrove di Lantebung jadi bukti inklusi dalam isu perubahan iklim.

Juni 8, 2026 - 22:31
Hari Lingkungan Hidup, Puluhan Pemuda Difabel Netra Tanam Mangrove di Makassar

MAKASSAR - Sebanyak 50 pemuda difabel netra berpartisipasi dalam Green Justice Youth Program. Kegiatan pembelajaran dan aksi nyata penyelamatan lingkungan ini mengintegrasikan isu perubahan iklim, inklusi disabilitas, serta kepemimpinan generasi muda dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Direktur Yayasan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK), Nur Syarif Ramadhan, menegaskan bahwa kelompok difabel sudah saatnya dipandang sebagai bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan lingkungan global dan perubahan iklim.

“Difabel bukan hanya kelompok yang terdampak oleh perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Mereka juga memiliki hak dan kapasitas untuk terlibat, memimpin, dan berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ujar Nur Syarif di Makassar, Senin (8/6/2026).

Sebagai bagian dari aksi nyata, para peserta melakukan penanaman pohon mangrove di kawasan wisata ekologi Lantebung, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.

Menurut Nur Syarif, ruang partisipasi bagi kelompok difabel dalam aksi lingkungan sejauh ini masih sering terabaikan. Padahal, pengalaman hidup yang mereka miliki mampu memberikan perspektif baru yang krusial demi mewujudkan pembangunan yang lebih inklusif.

Ia menjelaskan bahwa Green Justice Youth Program ini dapat terselenggara berkat dukungan dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) melalui program Indonesia's FOLU Net Sink 2030.

Program tersebut menjadi salah satu tonggak strategis untuk mendorong keterlibatan aktif generasi muda, termasuk para penyandang disabilitas, dalam mendukung agenda aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Melalui inisiatif ini, Nur Syarif berharap akan ada lebih banyak ruang partisipasi yang terbuka lebar bagi kelompok difabel dalam berbagai program pelestarian lingkungan hidup ke depan.

"Masa depan yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pohon yang ditanam, tetapi juga oleh sejauh mana semua warga, tanpa terkecuali, dapat berpartisipasi dalam menjaganya," tegasnya.

Selain melakukan penanaman mangrove, PerDIK juga menggelar sesi penguatan kapasitas. Agenda ini membedah isu-isu krusial mulai dari perubahan iklim, urgensi ruang terbuka hijau, kesetaraan gender, disabilitas, hingga inklusi sosial atau Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), serta peran sentral generasi muda dalam aksi iklim.

Melalui forum tersebut, para peserta dari kalangan muda difabel netra mendapatkan ruang untuk berdiskusi, saling berbagi pengalaman, serta memperluas pemahaman kolektif mengenai keterkaitan erat antara isu lingkungan dan keadilan sosial. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow