Sekjen PBB Kutuk Serangan Israel di Lebanon, Aktivitas Akademik di Iran Tetap Berjalan di Tengah Serangan

Sekjen PBB Antonio Guterres mengutuk serangan Israel di Lebanon, sementara aktivitas akademik di Iran tetap berjalan di tengah kerusakan akibat serangan udara.

April 9, 2026 - 14:30
Sekjen PBB Kutuk Serangan Israel di Lebanon, Aktivitas Akademik di Iran Tetap Berjalan di Tengah Serangan

JAKARTA - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengutuk keras serangan Israel di seluruh Lebanon yang dinilai meningkatkan korban sipil dan berisiko mengganggu upaya gencatan senjata di kawasan.

Dalam pernyataan yang disiarkan Rabu (8/4/2026), Guterres menyebut serangan pada 8 April tersebut menyebabkan ratusan warga sipil tewas dan terluka, termasuk anak-anak, serta menimbulkan kerusakan signifikan pada infrastruktur sipil.

Ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya jumlah korban dan menegaskan bahwa perlindungan terhadap warga sipil harus menjadi prioritas. “Sekretaris Jenderal kembali menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan,” demikian pernyataan tersebut.

Guterres juga mengingatkan pentingnya menjunjung hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil tidak dapat diterima.

Menurutnya, aktivitas militer yang terus berlangsung di Lebanon berpotensi mengancam gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat yang diumumkan pada 7 April 2026. Ia menilai kondisi tersebut dapat menghambat upaya menuju perdamaian yang berkelanjutan di kawasan.

Guterres kembali menegaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk konflik tersebut dan mendesak semua pihak menempuh jalur diplomasi serta melaksanakan secara penuh Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.

Sementara itu, dampak konflik juga dirasakan di Iran. Serangan udara Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menghantam Universitas Teknologi Sharif di Teheran, salah satu institusi pendidikan terkemuka di negara tersebut.

Kerusakan terlihat pada sejumlah fasilitas kampus, termasuk gedung Pusat Teknologi Informasi dan infrastruktur pendukung di sekitarnya. Puing-puing bangunan, tulangan baja yang bengkok, serta kerangka bangunan yang terbuka menggambarkan kondisi kampus pascaserangan.

Di tengah situasi tersebut, aktivitas akademik tetap berlangsung. Kepala Pusat Teknologi Informasi universitas, Alireza Zarei, dilaporkan tetap melanjutkan kegiatan mengajar, termasuk melalui kelas daring bagi mahasiswa pascasarjana.

Presiden universitas, Masoud Tajrishi, menyatakan bahwa pihak kampus akan tetap berupaya melanjutkan aktivitas pendidikan dan melakukan pemulihan. Ia juga menyebut adanya dukungan dari warga Iran di luar negeri untuk membantu proses rekonstruksi.

Menurut Kementerian Ilmu Pengetahuan, Penelitian, dan Teknologi Iran, lebih dari 30 universitas telah terdampak serangan sejak konflik meningkat pada akhir Februari 2026. Disebutkan pula bahwa korban mencakup dosen dan mahasiswa.

Situasi ini menunjukkan dampak konflik yang meluas, tidak hanya pada aspek militer, tetapi juga sektor pendidikan dan sipil di kawasan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow