PSPSR UGM Rayakan Dies Natalis ke-35 dengan Pergelaran Taru Atutur
Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) merayakan Dies Natalis ke-35 melalui pergelaran sendratasik bertajuk Taru Atutur
YOGYAKARTA - Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) merayakan Dies Natalis ke-35 melalui pergelaran sendratasik bertajuk Taru Atutur di Grha Sabha Pramana, Jumat (29/5). Acara ini menjadi refleksi perjalanan PSPSR dalam mengembangkan pendidikan seni sekaligus komitmen menjaga kebudayaan Nusantara.
Pergelaran Taru Atutur menghadirkan perpaduan tari, musik, teater, dan seni rupa dalam satu narasi. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga alumni terlibat dalam proses kreatif yang berlangsung berbulan-bulan. Tajuk Taru Atutur sendiri bermakna pohon kehidupan yang menuturkan pengetahuan dari generasi ke generasi.
Koordinator Jaminan Mutu S2 PSPSR, Dr. G.R. Lono L. Simatupang, M.A., menyebut Dies Natalis ke-35 sebagai momentum syukur atas amanat Direktorat Pendidikan Tinggi sejak 1991 untuk mengembangkan kualitas akademis bidang seni. “Lebih dari 700 alumnus PSPSR kini tersebar dari Aceh hingga Papua,” ujarnya.
Ketua Program Studi Magister PSPSR, Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari, M.Hum., menambahkan bahwa Taru Atutur menjadi wadah khazanah budaya Nusantara yang dikemas dengan kreativitas akademik. Pertunjukan memadukan tari tradisional, musik etnis, teater, tata cahaya, hingga video mapping sebagai bentuk pertemuan antara penelitian, kreativitas, dan praktik seni.
Selama 35 tahun, PSPSR telah melahirkan ratusan alumni yang berkiprah sebagai dosen, peneliti, seniman, dan budayawan di berbagai daerah. Ke depan, PSPSR bertekad memperluas kajian seni dengan pendekatan interdisipliner, menjadikan seni sebagai ruang dialog yang melampaui batas disiplin ilmu konvensional.
Dies Natalis ke-35 ini tidak hanya menjadi perayaan masa lalu, tetapi juga penanda langkah baru menuju masa depan pendidikan seni yang lebih terbuka, kolaboratif, dan relevan bagi perkembangan masyarakat. (*)
Apa Reaksi Anda?