Gandeng PT PLN, UB Wujudkan Pengembangan Transisi Energi Bersih Nasional
Universitas Brawijaya (UB) turut aktif dalam pengembangan transisi energi nasional berkolaborasi dengan PT PLN.
MALANG - Universitas Brawijaya (UB) turut aktif dalam pengembangan transisi energi nasional. Hal tersebut diwujudkan dalam kegiatan Diskusi Kolaborasi Riset dan Kick Off Meeting Project Konversi Kendaraan Hybrid Hydrogen–EV bersama PT PLN (Persero) yang dilaksanakan pada Jumat (24/4/2026) di Ruang Rapat Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains & Teknologi (DIKST), Gedung Layanan Bersama (GLB) Lantai 2 UB.
Melalui kolaborasi ini, UB bersama PLN akan mengembangkan kendaraan berbasis energi bersih melalui integrasi teknologi listrik dan hidrogen.
Dalam hal ini, PLN melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan (Puslitbang) memiliki peran sebagai think tank bisnis, pusat riset, serta pengembangan inovasi teknologi di sektor ketenagalistrikan.
Tim Puslitbang PLN, Ir. Toufiq Fahrudin, S.T., M.T menambahkan bahwa fokus utama PLN saat ini adalah mendukung target net zero emission. Ia pun menjelaskan bahwa PLN juga telah melakukan kerja sama dengan beberapa mitra kampus, industri, dan institusi global.
Kolaborasi yang telah berlangsung sejak 2024 ini turut menggandeng Apatte 62, sebuah tim mahasiswa Fakultas Teknik yang mengembangkan mobil hemat energi.
Sementara itu, salah satu tim peneliti UB, Dr. E.S. Widha Kusumaningdyah, S.T., M.T., menekankan pentingnya riset menggunakan pendekatan yang terintegrasi.
“Kami telah bekerja sama dengan FILKOM UB untuk mengembangkan platform, ke depan perlu diskusi lanjutan bersama mitra DIKST,” ujarnya.
Sementra itu, Pimpinan DIKST UB, Brillyanes Sanawiri, S.AB., M.BA., Ph.D., juga menyampaikan harapannya untuk kolaborasi ini dapat berjalan terus.
Pihak PT PLN, General Manager Ir. H. Mochammad Soleh, S.T., M.T., IPM., turut memaparkan bahwa pengembangan proyek konversi kendaraan ini secara teknis berbeda dengan sebelumnya. Biasanya, pihaknya mengonversi dengan berbasis pada internal combustion engine menjadi hidrogen, namun saat ini konversi kendaraan listrik (electric vehicle) menjadi kendaraan berbasis hidrogen.
Hidrogen dipilih sebagai energi masa depan karena sifatnya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, karena dapat menghasilkan air proses elektrolisis menggunakan energi listrik. Maka dari itu, pengembangan hidrogen bertekanan tinggi turut menjadi fokus untuk meningkatkan energi.
Ia menilai hal tersebut memiliki keunggulan dalam meningkatkan efisiensi kendaraan.
“Daya tempuh kendaraan meningkat hingga 500 km lebih jauh,” tambahnya.
Keunggulan lainnya adalah efisiensi waktu. Menurutnya, apabila pengisian baterai listrik membutuhkan waktu 30 menit, maka dengan hidrogen dapat dipersingkat menjadi 5 menit.
PLN juga telah menerima komponen fuel cell yang akan digunakan dalam proses konversi energi hidrogen menjadi listrik. (*)
Apa Reaksi Anda?