Potret Kemiskinan Kota Banjar: Kisah Pasutri Bertahan Hidup, Makan Jagung di Lahan PU
Carti dan Sarimin (57), pasutri warga RT 23 RW 9 Dusun Cibentang, Kota Banjar mendapat berkah saat dikunjungi Gubernur Jabar KDM.
BANJAR - Nasib baik memang tidak ada yang tahu ke mana akan bermuara. Hal inilah yang dirasakan oleh Carti dan Sarimin (57), pasutri warga RT 23 RW 9 Dusun Cibentang, Kota Banjar.
Di saat warga lain berbondong-bondong pergi ke jalan utama untuk menyambut kedatangan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), Carti yang sedang sakit memilih berdiam diri di rumah.
Namun siapa sangka, rombongan kendaraan KDM justru berhenti tepat di depan matanya.
Peristiwa yang terjadi bak mimpi di siang bolong ini membawa berkah luar biasa bagi Carti, yang sudah 10 tahun tinggal di tanah milik Pemprov (PU) di bantaran irigasi.
Rumah yang lebih mirip disebut gubuk ini hanya berpintukan tirai dari kain sarung dan terdiri dari dua kamar ukuran kecil berdinding triplek.
Tidak ada pintu yang menjamin keamanan dan kenyamanan keluarga yang terdiri dari 3 jiwa ini. Bahkan, dapur dan kamar mandi tampak tak layak dan hanya disekat apa adanya saja.
Kronologi Pertemuan: Antara Pasrah dan Keajaiban
Carti menceritakan bahwa awalnya ia sempat merasa sedih dan terasing karena kondisi fisiknya yang kurang fit membuat ia tidak bisa ikut menyambut kedatangan tokoh yang kerap disapa 'Bapak Aing' tersebut.
"Aduh, orang-orang mah ke depan, saya mah kok di sini sendiri, badan lagi pada sakit. Tapi saya mah (pasrah) lah, di sini aja, kalau ada rezeki mungkin ketemu," ungkap Carti mengingat gumamannya, Rabu (27/5/2026).
Tak lama setelah ia selesai menyapu dan beristirahat, ia heran melihat iring-iringan mobil masuk ke jalanan dekat rumahnya yang tidak biasa dilewati kendaraan roda empat.
"Duh, kok mobilnya berhenti depan saya. Pas turun, ternyata Pak KDM terus disusul Pak Wali Kota. Ini saya teh mimpi apa bukan sih? Langsung pikiran saya melayang," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Carti, bertemu langsung dengan sosok yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel sudah menjadi kebahagiaan luar biasa.
Kini, ia hanya bisa berharap janji manis di siang bolong itu bisa segera menjelma menjadi kenyataan.
Minim Bantuan, 10 Tahun Tinggal di Rumah Tak Layak Huni
Dalam obrolan spontan tersebut, KDM langsung menanyakan status kepemilikan tanah dan rumah yang ditinggali Carti.
Dengan jujur, Carti mengakui bahwa ia tidak memiliki tanah sama sekali dan menumpang di lahan PU sejak pertama kali anaknya lahir.
Mirisnya, selama satu dekade berada di sana, Carti mengaku sangat jarang tersentuh bantuan pemerintah.
"Dulu sempat didata saat saya masih berstatus orang tua tunggal dan rumah saya masih berupa bilik bambu, namun hingga kini tidak pernah terealisasi," katanya.
Carti mengaku tidak pernah mendapatkan PKH. Ia baru-baru ini hanya menerima BLT sebesar Rp900 ribu dan bantuan beras.
"Kadang saya juga makan jagung saat sudah tidak ada beras sama sekali," kisah Carti sesenggukan.
Hal ini dilakukannya demi bisa menyisihkan uang dari hasil berkebun untuk biaya pendidikan putrinya yang masih duduk di kelas 5 SD.
Carti dan Sarimin selama ini memang bekerja serabutan di kebun dan sawah. Ia mengaku menerima bayaran dari hasil kerja kerasnya tersebut untuk bisa menyambung hidup.
Mendengar kisah pilu tersebut, KDM secara spontan menjanjikan akan memberikan bantuan tanah dan rumah layak bagi Carti agar tidak lagi tinggal di lahan terlarang.
Respons Wali Kota Banjar Terkait Janji KDM
Menanggapi aksi spontan KDM, Wali Kota Banjar, Sudarsono, yang mendampingi kunjungan tersebut menyatakan kesiapannya untuk segera menindaklanjuti arahan tersebut.
Pemerintah Kota Banjar akan berkoordinasi dengan pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait mekanismenya.
"Nanti kita koordinasi ya dengan pihak provinsi mekanismenya. Bahkan tadi kan spontanitas ya, jadi saya tidak mau mengambil kesimpulan (terburu-buru) tapi minimal apa yang disampaikan oleh Pak Gubernur ya akan kita buktikan," tegas Sudarsono.
Sudarsono juga membenarkan bahwa fenomena warga yang tinggal di bantaran irigasi seperti Carti bukanlah kasus tunggal di wilayahnya. (*)
Apa Reaksi Anda?