Dipaksa Trump Menormalisasi Hubungan dengan Israel, Pemimpin Arab dan Muslim Tertegun Diam

Ucapan Trump ia lontarkan saat konferensi telepon hari Sabtu untuk membahas kemajuan perang AS dan Israel melawan Iran  dan untuk pembukaan kembali Selat Hormuz.

Mei 26, 2026 - 13:31
Dipaksa Trump Menormalisasi Hubungan dengan Israel, Pemimpin Arab dan Muslim Tertegun Diam

JAKARTA - Negara-negara Arab dan muslim dipaksa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk menormalisasi hubungannya dengan Israel, jika tidak Trump akan menghancurkan semuanya.

Ungkapan Trump itu bocor saat ia menyelenggarakan konferensi telepon pada hari Sabtu untuk membahas kemajuan setelah AS bersama Israel memerangi Iran  dan untuk pembukaan kembali Selat Hormuz.

Ucapan Trump itu membuat para pemimpin Arab terperanjat dan diam, dan Trump juga menuntut 'kesepakatan besar' dari Iran. "Saya akan menghancurkan semuanya," katanya.

Menurut rekaman percakapan telepon yang bocor itu, Trump menyampaikan kepada para pemimpin Arab dan muslim bahwa ia hanya akan menjadi penengah kesepakatan perdamaian dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, dengan catatan negara-negara Arab dan muslim itu menormalisasi hubungan dengan Israel.

Mengejutkan, karena itu merupakan sebuah tuntutan yang ditujukan kepada negara-negara yang telah menentang negara Yahudi tersebut sejak didirikan pada 1948.

Para pemimpin paling berpengaruh di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Mesir yang  bergabung dengan Presiden dalam konferensi telepon pada hari Sabtu untuk membahas kemajuan menuju pengakhiran perang AS-Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz itu langsung terdiam.

Menurut Axios, seperti dilansir Daily Mail, para pemimpin Arab begitu terkejut dengan tuntutan tersebut sehingga mereka menolak untuk menanggapi, dan tetap sepenuhnya diam mengenai seruan itu. 

Setelah keheningan yang cukup lama, Trump sempat gugup, kemudian berucap "Apakah mereka masih di sana?".

Dengan keheningan yang tak terpecahkan itu Trump kemudian mengakhiri panggilan tersebut dengan mengumumkan bahwa utusannya, Jared Kushner  dan Steve Witkoff akan menindaklanjuti normalisasi hubungan dengan Israel dalam beberapa minggu mendatang.

Kushner dan Witkoff telah memimpin negosiasi untuk AS dalam konflik global paling signifikan selama pemerintahan kedua Trump, termasuk Iran, Rusia-Ukraina, dan Israel-Gaza.

Presiden Trump telah lama berupaya memperluas Kesepakatan Abraham, kesepakatan tahun 2020 yang isinya menormalisasi hubungan antara Israel dan UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko.

Namun, posisi Israel di antara negara-negara Arab saat ini telah merosot tajam setelah menghancurkan Gaza, melakukan genosida dan telah membunuh lebih dari 75.811 warga Palestina serta melukai 173.000 lebih lainnya.  

Kesepakatan Abraham merupakan tonggak penting dalam pemerintahan Trump yang pertama.

Negara-negara yang telah menandatangani perjanjian tersebut sejauh ini termasuk Bahrain, Maroko, Uni Emirat Arab, dan Sudan, serta Israel.

Perundingan Terhenti

Setelah percakapan telepon yang digambarkan dramatis akhir pekan lalu itu, perundingan perdamaian antara AS dan Iran terhenti pada hari Senin. Menurut Wall Street Journal, kedua pihak menemui jalan buntu terkait persediaan uranium Teheran dan pencairan aset Iran.

Trump kemudian mengeluarkan ancaman baru yang luar biasa di Truth Socialnya dengan memposting meme yang menggambarkan dirinya memaksa seorang teroris kartun yang mewakili Iran untuk bernegosiasi atau dia 'akan meledakkan semuanya.'

Trump kemudian bersumpah bahwa AS dan Iran akan mencapai kesepakatan 'yang hebat dan bermakna' untuk mengakhiri perang 'atau tidak akan ada kesepakatan sama sekali.'

Unggahan tersebut tampaknya merupakan upaya lain untuk menanggapi kritik yang memperingatkan bahwa pakta tanpa batasan terhadap ambisi nuklir Iran berisiko menghidupkan kembali kesepakatan Obama yang dicapai pada tahun 2015.

Trump secara sepihak menarik AS keluar dari perjanjian yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) selama masa jabatan pertamanya, dan mencelanya sebagai 'kesepakatan terburuk dalam sejarah'.

"Ini akan menjadi kebalikan persis dari bencana JCPOA yang dinegosiasikan oleh pemerintahan Obama yang gagal, yang merupakan jalan langsung dan terbuka menuju senjata nuklir untuk Iran," tulis Trump pada hari Senin. 

Iran mengatakan kesepakatan yang sedang dinegosiasikan tidak termasuk konsesi langsung apa pun terhadap program nuklirnya.

Namun hanya komitmen untuk membahas masalah tersebut selama periode 60 hari. Iran menegaskan bahwa pembicaraan saat ini hanyalah berpusat pada pembukaan kembali Selat Hormuz. 

Kantor berita keuangan Nikkei menyebut, Iran akan membuka Selat Hormuz dalam waktu 30 hari setelah mencapai kesepakatan dengan AS.

Pada hari Minggu, Trump menyampaikan keinginannya agar lebih banyak negara Timur Tengah menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua negara di Timur Tengah atas dukungan dan kerja sama mereka sejauh ini, yang akan semakin ditingkatkan dan diperkuat dengan bergabungnya mereka ke dalam Negara-negara Perjanjian Abraham yang bersejarah," tulis Trump di Truth Social.

Dia menambahkan: "Siapa tahu, mungkin Republik Islam Iran juga ingin bergabung!"

Trump juga mengatakan bahwa hubungan AS dengan Iran akan menjadi jauh lebih profesional dan produktif. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow