Polres Cianjur Bantu Pekerja Pabrik Tahu yang Terdampak Lonjakan Harga Kedelai
Aktivitas sentra industri tahu di Kabupaten Cianjur berhenti total akibat meroketnya harga kedelai impor yang dipicu depresiasi rupiah. Merespons kondisi ini, Polres Cianjur menyalurkan bantuan sembak
CIANJUR - Aktivitas produksi di sejumlah sentra industri tahu di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terpaksa berhenti total akibat meroketnya harga komoditas kedelai di pasaran. Kondisi ini memicu keprihatinan dari jajaran Kepolisian Resor (Polres) Cianjur yang kemudian bergerak menyalurkan bantuan bahan pokok kepada para buruh pabrik yang kehilangan mata pencaharian.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah berada di Desa Langensari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Di wilayah ini, belasan pekerja terpaksa menganggur menyusul berhentinya operasional tempat mereka bekerja.
Tekanan berat yang dihadapi para pelaku usaha ini dipicu oleh depresiasi mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menyentuh angka Rp18.000. Kondisi makroekonomi tersebut secara langsung mengerek harga beli kedelai impor selaku bahan baku utama pembuatan tahu. Alhasil, biaya operasional membengkak drastis sementara daya beli masyarakat cenderung stagnan.
Situasi pelik ini memaksa manajemen pabrik mengambil keputusan pahit untuk merumahkan seluruh pegawainya demi menghindari kerugian yang jauh lebih besar.
Respons Cepat dan Donasi Mandiri Polres Cianjur
Kepala Kepolisian Resor Cianjur, AKBP Akhmad Alexander Yurikho Hadi, menjelaskan bahwa aksi sosial ini bermula dari pemantauan informasi di media massa mengenai banyaknya pabrik tahu yang vakum akibat gejolak harga bahan baku. Pihaknya merasa perlu hadir di tengah masyarakat untuk meringankan beban ekonomi yang kian menghimpit.
"Dari pemberitaan yang kami terima, banyak pabrik pengolahan kedelai di Kecamatan Karangtengah yang tidak lagi berproduksi. Dampaknya tentu kepada para pekerja yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan," ujarnya, Minggu (7/6/2026).
Kapolres menambahkan bahwa paket kebutuhan pokok yang dibagikan tersebut bukan bersumber dari anggaran dinas, melainkan hasil donasi sukarela dari seluruh anggota kepolisian di lingkungan Polres Cianjur. Gerakan gotong royong ini sengaja diinisiasi sekaligus dalam rangka menyambut momentum peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada 1 Juli 2026 mendatang.
"Ini bukan bantuan dari Kapolres, tetapi bantuan dari seluruh personel Polres Cianjur. Kami melakukan urunan atau semacam celengan bersama untuk membantu meringankan beban masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi," tuturnya.
Pihak kepolisian menyadari sepenuhnya bahwa pemberian bantuan pangan ini tidak serta-merta menjadi solusi jangka panjang atas akar permasalahan yang dihadapi oleh para pelaku industri maupun pekerja harian. Meski demikian, langkah taktis ini diharapkan mampu menyambung kebutuhan dapur keluarga para buruh untuk beberapa hari ke depan di tengah masa-masa sulit penutupan pabrik.
"Kami tidak bermaksud menyelesaikan masalah. Kalau memang bisa membantu tentu alhamdulillah. Niat kami sederhana, yakni meringankan beban saudara-saudara kami yang terdampak kondisi ekonomi saat ini," ucapnya.
Lebih jauh, aparat penegak hukum juga menaruh harapan besar agar stabilitas harga komoditas kedelai nasional dapat segera pulih dalam waktu dekat. Jika harga bahan baku kembali ke angka normal, para pengusaha diharapkan bisa kembali membuka tempat usaha mereka, sehingga para pekerja dapat terserap kembali dan roda perekonomian di tingkat daerah bisa berputar seperti sedia kala.
"Mudah-mudahan harga komoditas kedelai segera kembali ekonomis sehingga pabrik yang sudah hampir dua bulan berhenti ini dapat kembali berproduksi. Jika produksi berjalan lagi, roda ekonomi masyarakat juga akan kembali berputar," tuturnya.
Keluhan Pengusaha Tahu: Dua Bulan Lumpuh Total
Di sisi lain, salah seorang pemilik usaha manufaktur tahu, Taufik Munandar, mengungkapkan bahwa lini produksinya memang telah lumpuh selama hampir dua bulan terakhir. Keputusan berhenti beroperasi diambil lantaran kalkulasi biaya produksi sudah tidak lagi sebanding dengan harga jual produk di pasar, yang diperparah dengan tren penurunan permintaan dari konsumen.
"Sudah hampir dua bulan tutup. Harga bahan baku terus naik, sementara permintaan tahu justru menurun. Kalau dipaksakan produksi, kerugiannya akan semakin besar," ungkap Taufik menjelaskan.
Pengusaha lokal ini memaparkan bahwa dalam kondisi normal sebelum terjadinya krisis, fasilitas produksinya membutuhkan pasokan bahan baku kedelai sedikitnya 1,5 kuintal setiap hari. Operasional pabrik mulai terganggu secara masif ketika harga tebus kedelai merangkak naik hingga menyentuh level Rp10.500 per kilogram, yang langsung memukul margin keuntungan perusahaan.
"Terakhir ada 14 karyawan yang bekerja di sini. Setelah pabrik berhenti, mereka tentu terdampak karena tidak lagi bekerja seperti biasanya," imbuhnya.
Taufik memastikan bahwa paket bantuan sembako dari Polres Cianjur ini akan diteruskan secara merata kepada seluruh stafnya, tanpa memandang status pekerjaan mereka saat ini. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap para mantan pekerjanya yang kini sebagian besar masih kesulitan mencari sumber pendapatan baru.
"Bantuan ini akan dibagikan kepada karyawan. Baik yang masih menganggur maupun yang sudah mendapatkan pekerjaan lain tetap akan kami berikan karena ini memang untuk mereka," tambahnya.
Perwakilan pelaku usaha dan para pekerja ini menyampaikan apresiasi serta rasa syukur yang mendalam atas kepekaan sosial yang ditunjukkan oleh institusi kepolisian. Kehadiran bantuan ini dinilai sangat tepat momentum di saat para buruh harian lepas sedang berada dalam kondisi ketidakpastian ekonomi yang tinggi.
"Alhamdulillah sangat membantu dan meringankan. Kami berterima kasih karena sudah peduli dan melihat kondisi kami. Mudah-mudahan ke depan pabrik bisa kembali berproduksi dan para karyawan bisa bekerja lagi," tandasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?