Perkuat Pemberdayaan UMKM, Mahasiswa Doktoral UM Ajarkan Peluang Ekspor dan Kolaborasi
Kolaborasi antara institusi pendidikan dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi langkah penting dalam mendorong peluang pengembangan usaha hingga pasar ekspor.
MALANG - Kolaborasi antara institusi pendidikan dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi langkah penting dalam mendorong peluang pengembangan usaha hingga pasar ekspor. Hal tersebut yang dilakukan oleh mahasiswa S3 Manajemen Universitas Negeri Malang (UM) dengan melakukan company visit ke Pelangi Nusantara (Pelanusa), sebuah komunitas atau UMKM kreatif yang memberdayakan perempuan di bidang fashion. Kegiatan tersebut dilaksanakan di gedung Malang Creative Center (MCC), Selasa (12/5/2026).
Founder sekaligus CEO Pelanusa, Endahing Noor Suryanti menyambut ramah kunjungan mahasiswa doktoral UM tersebut. Menurutnya, kolaborasi ini adalah support bagi UMKM untuk dapat mengembangkan terus inovasi dan ide kreativitas lainnya.
“Kunjungan mahasiswa doktoral ini menjadi support bagi kami, sekaligus memvalidasi bahwa kami sudah berada di jalan yang benar,” ujarnya saat diwawancarai usai acara.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa UMKM juga membutuhkan ilmu terkait kegiatan ekspor produk ke pasar global melalui para akademisi. Hal ini yang akan mendorong produk UMKM dapat bersaing dengan produk lainnya di pasar global.
Melalui kegiatan ini, Yanti mengaku telah mendapatkan banyak ilmu serta masukan bagi para pelaku UMKM perempuan, terutama dalam aspek manajemen usaha, pengembangan ide, pasar ekspor, hingga peluang kolaborasi yang lebih luas. Ia menambahkan bahwa selama mendirikan dan mengembangkan Pelanusa, ia hanya belajar dari lapangan tanpa mengerti bagaimana ilmu yang benar.
Sementara itu, Guru Besar FEB UM, Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si menyampaikan bahwa salah satu fokus Program Studi Doktor Ilmu Manajemen (PDIM) adalah pemberdayaan UMKM dengan menggali melalui faktor pendukung, hambatan yang dialami ketika memasuki pasar global, hingga strategi ekspor.
“Keunggulan PDIM adalah fokus pada pemberdayaan UMKM, strategi ekspor, hingga hambatan produk mereka menembus pasar global,” jelasnya.
Salah satu mahasiswa doktoral dalam kegiatan tersebut, Landreas Lie, menyampaikan bahwa kolaborasi antara praktisi dengan akademisi menjadi hal penting. Menurutnya, terkadang praktisi berjalan mengikuti arus pasar. Akan tetapi, dengan hadirnya akademisi dapat mengarahkan secara keilmuan supaya lebih tertata.
“Biasanya praktisi berjalan suka-suka dia dan ngikutin pasar aja, nah kalau ada akademisi bisa diarahkan sesuai bidang keilmuannya supaya lebih tertata,” pungkasnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi titik awal untuk membuka peluang kolaborasi yang lain, karena UMKM masih memerlukan banyak bimbingan dan pendampingan melalui akademisi. (*)
Apa Reaksi Anda?