Peringati Hari Bumi, Gresik Kolaborasi Tekan Sampah Plastik

Peringatan Hari Bumi di Gresik fokus pada sinergi lintas sektor atasi sampah plastik. DLH Gresik dorong ekonomi hijau sementara DPRD soroti kesadaran anggaran.

April 22, 2026 - 20:30
Peringati Hari Bumi, Gresik Kolaborasi Tekan Sampah Plastik

GRESIK - Momentum Hari Bumi menjadi pijakan bagi para pemangku kepentingan (stakeholder) di Kabupaten Gresik untuk memperkuat sinergi lintas sektor. Langkah ini dilakukan guna mengatasi persoalan sampah plastik yang dinilai kian mengkhawatirkan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik, Sri Subaidah, menegaskan bahwa komitmen menekan sampah plastik terus dijalankan. Salah satu langkah konkretnya adalah kebijakan toko ritel modern di Kota Pudak yang tidak lagi menyediakan kantong plastik.

"Sebanyak 317 ritel telah berkomitmen mengurangi plastik sekali pakai. Masyarakat mulai sadar, dan kebijakan ini terbukti sangat efektif mengurangi volume sampah plastik," ujar Sri dalam dialog publik yang digelar Fraksi PKB DPRD Gresik, Rabu (22/4/2026).

Sri menjelaskan, penanganan sampah di Gresik saat ini mengacu pada konsep triple planetary crisis dan ekonomi hijau, yaitu model pembangunan yang menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan.

Untuk mendukung hal tersebut, DLH mengembangkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di sejumlah titik. Tujuannya, agar sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya menyisakan residu.

“Di TPA Ngipik, kami sudah menerapkan landfill mining untuk mengurai timbunan sampah lama yang jumlahnya mencapai lebih dari satu juta ton,” jelasnya.

Selain infrastruktur daerah, Sri juga mengapresiasi kemandirian desa dalam mengelola sampah, seperti yang dilakukan Desa Randuboto. Ia berharap pola pengelolaan sampah mandiri ini bisa diduplikasi oleh desa-desa lain di Gresik.

Kesadaran dan Kebijakan Anggaran

Di tempat yang sama, Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir, menilai persoalan sampah berakar pada dua aspek utama: kesadaran masyarakat dan kebijakan pemerintah.

“Kesadaran mengelola sampah, mengurangi pemakaian plastik, hingga kesadaran dalam menyusun anggaran penanganan sampah menjadi sangat krusial,” tegas Syahrul.

Ia menambahkan, isu lingkungan di Gresik merupakan tantangan klasik, di mana volume sampah terus meningkat tanpa diimbangi kemampuan pengelolaan yang memadai. Syahrul mendorong agar program pengelolaan sampah bisa menyentuh level rumah tangga.

“Salah satu indikator keberhasilan daerah adalah aspek retribusi pengelolaan sampah. Hal ini mencerminkan sejauh mana keseriusan kita dalam mengelola lingkungan,” imbuhnya.

Ancaman Mikroplastik bagi Kesehatan

Isu mikroplastik juga menjadi sorotan tajam dalam forum tersebut. Pegiat lingkungan dari Yayasan Ecoton, Prigi Arisandi, mengingatkan dampak buruk plastik terhadap kesehatan manusia dan ekosistem.

Prigi memaparkan data yang mengkhawatirkan mengenai keberadaan mikroplastik yang kini mulai ditemukan dalam tubuh manusia, mulai dari darah, feses, air ketuban, hingga sel reproduksi. "Mikroplastik bahkan dapat memengaruhi fungsi otak menjadi lebih lambat,” ungkapnya.

Pencemaran ini juga telah masuk ke rantai makanan laut. Berdasarkan penelitian, mikroplastik ditemukan di organ dalam ikan, hiu tutul, hingga vegetasi mangrove di pesisir.

"Realitanya, hanya sekitar 9 persen plastik yang berhasil didaur ulang. Sisanya berakhir mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan kita," pungkas Prigi. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow