Pelaku Wisata Kota Batu Sepakat Bangkitkan Sektor Pariwisata
Pemangku kepentingan pariwisata di Kota Batu sepakat memperkuat kolaborasi untuk memulihkan sektor wisata yang mengalami penurunan pendapatan hingga 40 persen melalui inovasi, promosi, dan pengembanga
BATU BATU – Sejumlah pemangku kepentingan pariwisata di Kota Batu sepakat memperkuat kolaborasi untuk membangkitkan kembali kejayaan sektor wisata. Komitmen itu mengemuka dalam kegiatan Sarasehan Pariwisata yang digelar di Royal 360 Resto, beberapa waktu lalu.
Kegiatan yang digagas Batu Guide Community (BGC) bersama DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Batu itu menjadi ruang diskusi bagi para pelaku industri pariwisata.
Dalam forum tersebut terungkap bahwa sejumlah sektor penunjang pariwisata mengalami penurunan pendapatan cukup signifikan. Penurunan berkisar antara 30 hingga 40 persen dan dirasakan oleh pelaku usaha oleh-oleh, catering, transportasi wisata, hingga perhotelan.
Kondisi itu mendorong para pelaku usaha untuk melakukan berbagai inovasi, mulai dari memperluas target pasar hingga melakukan diversifikasi produk agar tetap mampu bersaing di tengah dinamika industri wisata.
Anggota DPRD Kota Batu, Hasan Abdillah, yang turut hadir dalam diskusi tersebut menegaskan bahwa Kota Batu tidak boleh stagnan jika ingin tetap menjadi destinasi wisata unggulan di Jawa Timur.
"Situasi pariwisata di Kota Batu harus tetap inovatif. Jika kita hanya bertahan atau stagnan, itu sama saja dengan kita melangkah menuju kekalahan. Setiap tantangan harus kita ubah menjadi peluang," ujarnya, Jumat (13/3/2026).
Sebagai bentuk komitmen bersama, kegiatan tersebut ditutup dengan penandatanganan Pakta Integritas oleh berbagai asosiasi kepariwisataan dari Kota Batu dan Malang Raya.
Penandatanganan dilakukan oleh perwakilan sejumlah organisasi, di antaranya Ketua DPC HPI Kota Batu sekaligus Ketua BGC, Ketua DPC HPI Malang, Ketua Komunitas Rental Mobil (Korembi), Paguyuban Catering Pariwisata (PCP), LSP Paresta, Pokdarwis, BAPTA, PRAM, PAM, IHSA hingga PHRI.
"Dalam pakta integritas tersebut disepakati beberapa langkah strategis penguatan sektor pariwisata. Di antaranya pengembangan program wisata yang selaras dengan visi dan misi wali kota, peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata, pengembangan destinasi baru, serta penguatan promosi wisata," kata politisi PKB tersebut.
Selain itu, muncul pula sejumlah ide pengembangan wisata seperti wisata gastronomi berbasis kuliner lokal, program walking tour yang mengangkat sejarah Kota Batu melalui storytelling, hingga wisata tematik di desa-desa.
Event komunitas seperti pertemuan mobil klasik maupun vespa juga dinilai berpotensi menjadi daya tarik wisata baru. Para pramuwisata juga menyuarakan perhatian terhadap aspek perlindungan kerja.
"Mereka menilai profesi pemandu wisata termasuk pekerja rentan sehingga membutuhkan perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja yang lebih jelas," imbuhnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah dan DPRD diharapkan dapat mempercepat penetapan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA).
"Dokumen tersebut dinilai penting untuk memperjelas arah kebijakan serta dukungan anggaran bagi pengembangan pariwisata di Kota Batu," tutupnya. (*)
Apa Reaksi Anda?