Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru
Bahkan Ali Khamenei dikabarkan menentang terhadap pencalonannya karena ia setuju dengan pemerintahan turun-temurun seperti yang pernah diberlakukan oleh monarki Shah yang didukung Amerika Serikat sebe
JAKARTA Iran telah memilih Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, setelah Majelis Pakar Iran mengadakan diskusi dan pertemuan beberapa kali.
Namun dalam sebuah wawancara dengan ABC News, Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa pemimpin Iran itu tidak akan "bertahan lama" tanpa persetujuannya.
"Seharusnya saya dilibatkan dalam pemilihan di Iran itu, seperti yang terjadi dengan Delcy Rodriguez di Venezuela," kata Trump, dikutip pada Senin (9/3/2026)
Putra Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, seminggu setelah ayahnya tewas dalam serangan udara Israel.
Mojtaba, 56, adalah putra tertua kedua Khamenei. Ia memiliki hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), dan dipilih oleh Majelis Pakar Iran.
Mojtaba bukanlah ulama berpangkat tinggi, tidak pernah memegang jabatan, dan tidak memiliki peran resmi dalam rezim tersebut.
Mojtaba Khamenei lahir pada tahun 1969, adalah putra kedua dari mendiang Pemimpin Tertinggi dan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam lingkaran terdekat yang mengelilingi pusat pengambilan keputusan di rumah tangga Khamenei.
Kesadaran politiknya terbentuk selama peristiwa revolusi tahun 1979, dan kemudian menyertai kenaikan ayahnya ke posisi Presiden Republik pada tahun 1981, sebelum ayahnya menjadi Pemimpin Tertinggi pada tahun 1989.
Pengumuman pengangkatan Mojtaba dilakukan setelah pertimbangan dan diskusi yang panjang menyusul serangan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026, yang oleh Tel Aviv disebut "Raungan Singa" sementara Washington menyebutnya "Kemarahan Epik," dan yang mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan istri putranya, Zahra Haddad Adel, putri dari mantan Ketua Parlemen Iran, Gholam Ali Haddad Adel.
Dalam beberapa tahun terakhir, Mojtaba Khamenei telah muncul dibeberapa acara publik bersama tokoh-tokoh terkemuka dari kubu moderat, termasuk mantan Presiden Hassan Rouhani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani, dan mantan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif. Namanya juga sering disebut-sebut di kalangan politik sebagai calon penerus ayahnya.
Mojtaba Khamenei pernah bertugas di angkatan bersenjata Iran selama perang Iran-Irak dan diyakini memiliki pengaruh besar di balik layar. Ia telah disebut-sebut sebagai calon penerus ayahnya selama bertahun-tahun.
Namun selama itu namanya tidak termasuk dalam daftar tiga ulama senior yang dilaporkan diidentifikasi oleh Ali Khamenei tahun lalu.
Bahkan Ali Khamenei dikabarkan menentang terhadap pencalonannya karena ia setuju dengan pemerintahan turun-temurun seperti yang pernah diberlakukan oleh monarki Shah yang didukung Amerika Serikat sebelum digulingkan dalam Revolusi Iran pada tahun 1979.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan menentang Mojtaba Khamenei untuk menduduki posisi tersebut, bahkan dalam sebuah wawancara dengan Axios ia mengatakan, bahwa ia tidak bisa menerimanya. "Seharusnya saya dilibatkan dalam pemilihan di Iran itu, seperti yang terjadi dengan Delcy Rodriguez di Venezuela," kata Trump. (*)
Apa Reaksi Anda?