Iran Tetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Pengganti Ayahnya
Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru menggantikan Ali Khamenei yang meninggal dalam serangan udara.
JAKARTA Iran resmi memiliki Pemimpin Tertinggi baru. Majelis Pakar Iran pada Minggu (8/3/2026) menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang meninggal dalam serangan udara Israel pada akhir Februari lalu.
Penunjukan Mojtaba Khamenei terjadi setelah Majelis Pakar menggelar serangkaian pertemuan dan diskusi untuk menentukan pengganti pemimpin tertinggi Iran. Lembaga yang beranggotakan para ulama tersebut memang memiliki kewenangan konstitusional untuk memilih pemimpin tertinggi ketika posisi itu kosong.
Mojtaba Khamenei, yang kini berusia sekitar 56 tahun, dikenal sebagai putra kedua Ali Khamenei dan selama bertahun-tahun disebut sebagai salah satu figur berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran.
Meski tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan, ia diyakini memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) serta berperan besar di balik layar dalam dinamika politik negara tersebut.
Kesadaran politik Mojtaba terbentuk sejak masa Revolusi Iran 1979. Ia juga menyaksikan langsung perjalanan politik ayahnya yang menjabat Presiden Iran pada 1981 sebelum akhirnya menjadi Pemimpin Tertinggi pada 1989.
Dalam beberapa tahun terakhir, Mojtaba beberapa kali terlihat dalam acara publik bersama tokoh-tokoh politik Iran, termasuk mantan Presiden Hassan Rouhani, mantan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif, dan mantan Ketua Parlemen Ali Larijani. Namanya pun kerap disebut sebagai kandidat penerus ayahnya.
Mojtaba diketahui pernah bertugas di angkatan bersenjata Iran saat perang Iran-Irak. Meski demikian, ia bukan ulama berpangkat tinggi dan tidak pernah memegang posisi pemerintahan secara formal.
Penunjukan Mojtaba terjadi setelah situasi politik Iran memanas menyusul serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat Iran lainnya. Serangan itu memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan kritik terhadap penunjukan tersebut. Dalam wawancara dengan ABC News dan Axios, Trump menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei tidak akan “bertahan lama” tanpa persetujuan Amerika Serikat.
“Saya tidak bisa menerimanya. Seharusnya saya dilibatkan dalam pemilihan di Iran itu,” kata Trump. (*)
Apa Reaksi Anda?