Menggema dari Ruang Lesehan: Ketika Masjid Kecil di Sekejati Bandung Meretas Solusi Kemiskinan

Panggung kesederhanaan terpancar nyata dalam Tabligh Akbar di Masjid An-Nur, RW 03 Kelurahan Sekejati, Kota Bandung. Keterbatasan fasilitas fisik justru melahirkan ruang dialog spiritual intim dan ber

Juli 3, 2026 - 18:26
Menggema dari Ruang Lesehan: Ketika Masjid Kecil di Sekejati Bandung Meretas Solusi Kemiskinan
BANDUNG -

Sebuah masjid idealnya tidak hanya diukur dari kemegahan arsitektur fisik atau tinggi menaranya.

Nilai hakiki sebuah rumah ibadah justru memancar dari seberapa besar dampak dan kemaslahatan yang mampu disebarkan bagi masyarakat di sekitarnya.

Panggung kesederhanaan inilah yang terpancar nyata dalam gelaran Tabligh Akbar di Masjid An-Nur, wilayah RW 03, Kelurahan Sekejati, Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung.

Meski digelar di dalam ruangan terbatas dan dihadiri warga dengan cara lesehan, atmosfer kekhidmatan dan antusiasme ratusan jemaah yang memadati lokasi tidak surut sedikit pun.

Keterbatasan fasilitas fisik justru melahirkan ruang dialog spiritual yang intim dan bermakna mendalam.

Apresiasi tinggi langsung datang dari pimpinan wilayah setempat, Ketua RW 03 Kelurahan Sekejati.

Dalam sambutannya, ia mengungkapkan rasa bangga yang luar biasa terhadap militansi pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) An-Nur.

"Wilayah RW 03 sangat berbangga hati dan mengapresiasi DKM An-Nur," ujar Ir. Nanda A., Ketua RW 03 di hadapan jemaah yang hadir, Jumat (3/7/2026).

"Masjidnya boleh saja kecil, tetapi gemanya luar biasa besar. Motivasi dari kepemimpinan pengurus mampu menggerakkan masyarakat sebanyak ini," imbuhnya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena jajaran pengurus wilayah belum mampu memfasilitasi tempat yang lebih mewah, sehingga warga harus rela duduk lesehan.

Namun, ia menegaskan bahwa substansi dari pertemuan ini jauh lebih penting, yakni memetik esensi ilmu yang dibawa oleh pemateri, Ustadzah Bunda Devi.

Kehadiran Lurah Sekejati, Arief Burhanuddin, di tengah kesibukan birokrasinya yang padat - bahkan setelah menjalani agenda olahraga pagi bersama Camat setempat - menjadi bukti nyata adanya dukungan penuh dari elemen pemerintah terhadap aktivitas keagamaan di akar rumput.

Filosofi Laut Terbelah dan Program Pemberdayaan Umat

Ketua Pembina Masjid An-Nur, dr. Dipo Kentjono, Sp.BM, menjabarkan latar belakang filosofis di balik pemilihan tema Tabligh Akbar kali ini.

Dipo mengisahkan bahwa ide acara dalam rangka menyambut 1 Muharram ini lahir dari aspirasi jemaah perempuan yang menginginkan adanya syiar Islam yang masif dan berdampak luas.

Tema yang diangkat pun sangat membumi, yaitu seputar dinamika kesulitan hidup yang dihadapi manusia sehari-hari.

Dipo kemudian merefleksikan tema tersebut dengan narasi sejarah heroik Nabi Musa saat membawa rombongannya—yang terdiri dari lansia hingga ibu hamil—bermigrasi hingga terjebak di tepi Laut Merah.

Saat posisi terjepit oleh kejaran tentara Firaun, mukjizat tongkat Nabi Musa mampu membelah laut atas izin Allah.

"Persoalan dan kesulitan hidup akan selalu kita jumpai selama kita masih bernyawa. Berangkat dari sana, muncullah tema 'Ada Kesulitan, Ada Kemudahan'. Siapa yang bertakwa, Allah janjikan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka," tutur dr. Dipo.

Lebih jauh, DKM An-Nur tidak ingin berhenti pada tataran retorika mimbar. Dipo mengumumkan sebuah terobosan konkret berupa tiga program besar yang akan dimulai tahun ini.

Salah satunya adalah pembentukan Baitul Mal berskala mikro. Program ini dirancang khusus untuk membebaskan jemaah dan kaum dhuafa dari jerat kesulitan finansial melalui sistem tabungan kurva tanpa bunga.

"Bagi sebagian orang, uang lima puluh ribu rupiah mungkin kecil, tetapi bagi jemaah yang sedang kesulitan, nilai itu sangat besar. Kami ingin masjid kecil ini melahirkan gema kemandirian ekonomi yang nyata," tambahnya.

Sinergisitas Tanpa Batas Ulama dan Umarah

Dalam tausiyahnya yang mendalam, Ustazah Bunda Devi memberikan analogi sejarah yang menyentuh.

Ia mengingatkan jemaah bahwa peradaban besar Madinah Al-Munawwaroh pada masa awal dibangun oleh Rasulullah SAW bukan melalui bangunan Masjid Nabawi yang megah dan bermercusuar seperti saat ini, melainkan dari sebidang tanah kecil yang sederhana.

"Jadi kalau melihat ukuran Masjid Nabawi di masa awal, Masjid An-Nur di Sekejati ini sebenarnya jauh lebih besar. Karena itu, jangan berkecil hati dengan ukuran fisik bangunan," ungkap Bunda Devi memotivasi jemaah.

Bunda Devi juga melemparkan pujian terhadap kerangka kerja kolaboratif yang diperlihatkan oleh Lurah Sekejati. Ia menilai, kehadiran pemimpin formal di tengah majelis ilmu merupakan bentuk 'sinergisitas tanpa batas'.

Pemimpin yang baik adalah umaroh yang mampu menerjemahkan bahasa program pemerintah ke dalam bahasa Al-Quran, serta menjadikan kitab suci sebagai komitmen dasar dalam menjalankan roda pemerintahan, bukan sekadar menjadikannya pajangan formalitas saat pelantikan.

Menutup rangkaian pemaparan, Lurah Sekejati, Arief Burhanuddin, mengonfirmasi komitmennya untuk terus mendukung kegiatan positif keagamaan di wilayahnya.

Ia menilai ayat lima dan enam dari Surah Al-Inshirah (Inna ma'al usri yusra) yang diangkat sebagai tema sentral merupakan pengingat universal bagi setiap manusia.

"Setiap manusia pasti akan diuji dengan berbagai kesulitan dalam hidupnya. Namun, melalui ketakwaan dan kesabaran, janji Allah itu pasti nyata bahwa di balik kesulitan tersebut selalu ada kemudahan yang mengiringi.

Melalui penguatan mental spiritual dan program ekonomi seperti Baitul Mal jemaah ini, kami berharap warga Sekejati bisa bersama-sama melewati setiap tantangan ekonomi maupun sosial dengan tangguh," pungkas Arief. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow