Konflik Iran-AS Memanas, Tiga Kapal Minyak Turki Berhasil Lintasi Selat Hormuz
Menteri Transportasi Turki Abdulkadir Uraloglu mengonfirmasi tiga kapal minyak Turki berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman di tengah konflik Iran, AS, dan Israel.
JAKARTA Tentu, ini adalah penulisan ulang artikel tersebut dengan standar jurnalistik media nasional, lengkap dengan optimasi SEO dan rekomendasi judulMenteri Transportasi dan Infrastruktur Turki, Abdulkadir Uraloglu, mengonfirmasi bahwa tiga kapal pengangkut minyak mentah milik perusahaan Turki berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman. Keberhasilan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang pecah sejak akhir Februari lalu.
“Sebagai hasil dari upaya yang kami lakukan bersama Kementerian Luar Negeri, kapal milik Turki bernama Ocean Thunder, yang sedang dalam perjalanan membawa minyak mentah dari Irak ke Malaysia, telah berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman sejak tadi malam dan menyelesaikan perjalanannya keluar dari Teluk,” ujar Uraloglu sebagaimana dikutip dari harian Daily Sabah, Senin (6/4/2026).
Uraloglu menegaskan bahwa otoritas Turki terus memantau perkembangan situasi di kawasan tersebut selama 24 jam penuh. Pihaknya juga menjalin koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri serta lembaga terkait guna memastikan keamanan pelayaran.
Saat ini, beberapa kapal milik perusahaan Turki lainnya dilaporkan masih berada di sekitar wilayah selat. Pemerintah Turki terus mengupayakan langkah-langkah evakuasi agar kapal-kapal tersebut dapat keluar dari zona konflik dengan selamat. Komunikasi dengan para awak kapal pun dilakukan secara berkelanjutan untuk memantau kondisi di lapangan.
Sebelumnya, otoritas Turki mencatat terdapat 15 kapal milik perusahaan Turki yang berada di kawasan Selat Hormuz saat konflik pecah. Berbagai prosedur mitigasi risiko telah diterapkan untuk meminimalkan dampak buruk terhadap aktivitas pelayaran internasional.
Ketegangan di kawasan ini bermula pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah titik di Iran, termasuk Teheran, yang memicu kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban sipil. Iran merespons tindakan tersebut dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi militer ini menyebabkan terjadinya blokade de facto di Selat Hormuz. Padahal, selat ini merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Akibat gangguan logistik di jalur strategis tersebut, harga energi dunia kini dilaporkan mengalami kenaikan signifikan. (*)
Apa Reaksi Anda?