Kisah Teuku Markam: Sumbang 28 Kg Emas untuk Monas, Berakhir Dipenjara 8 Tahun

Kisah Teuku Markam, pengusaha Aceh yang menyumbangkan 28 kg emas untuk Monas, namun berakhir dipenjara 8 tahun pasca pergantian rezim 1965.

Februari 26, 2026 - 01:00
Kisah Teuku Markam: Sumbang 28 Kg Emas untuk Monas, Berakhir Dipenjara 8 Tahun

JAKARTA Kisah Teuku Markam adalah cerita tentang nasionalisme, kekayaan, kekuasaan, dan bagaimana perubahan politik bisa mengubah nasib seseorang secara drastis. Ia dikenal sebagai pengusaha asal Aceh yang menyumbangkan 28 kilogram emas murni untuk melapisi “Lidah Api” di puncak Monas—ikon kebanggaan Indonesia. Namun ironi sejarah mencatat, sosok yang memberi cahaya bagi ibu kota justru harus mendekam di penjara selama delapan tahun setelah pergantian rezim 1965.

Pengusaha Sukses dan Sahabat Dekat Soekarno

Di era pemerintahan Presiden Soekarno, Teuku Markam termasuk dalam jajaran pengusaha papan atas Indonesia. Melalui perusahaannya, PT Karkam, ia bergerak di bidang ekspor-impor dan memiliki jaringan bisnis luas.

Markam dikenal bukan hanya sebagai pebisnis, tetapi juga sebagai tokoh yang memiliki kedekatan personal dengan Soekarno. Kedekatan itu membuatnya terlibat dalam berbagai proyek strategis negara pada masa Orde Lama. Dalam konteks pembangunan nasional saat itu, peran pengusaha seperti Markam sangat penting karena negara membutuhkan dukungan finansial dari sektor swasta untuk mewujudkan proyek-proyek simbolik.

Salah satu proyek monumental tersebut adalah pembangunan Monumen Nasional (Monas) di Jakarta.

28 Kg Emas untuk Puncak Monas

Monas dibangun sebagai simbol perjuangan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Di puncaknya terdapat “Lidah Api” yang dilapisi emas murni. Pada tahap awal pembangunan, total emas yang digunakan sekitar 38 kilogram.

Dari jumlah tersebut, 28 kilogram merupakan sumbangan pribadi Teuku Markam. Angka ini bukan jumlah kecil, terlebih pada era 1960-an ketika nilai emas sangat tinggi dan ekonomi nasional masih dalam tahap pembangunan.

Sumbangan itu menunjukkan besarnya rasa nasionalisme Markam. Ia tidak sekadar menyumbang dana, melainkan memberikan aset pribadi dalam bentuk emas murni untuk simbol kebanggaan negara. Hingga hari ini, jutaan orang berfoto di bawah Monas tanpa mengetahui bahwa sebagian besar emas di puncaknya berasal dari satu orang: Teuku Markam.

Pergantian Rezim dan Awal Petaka

Situasi politik Indonesia berubah drastis setelah peristiwa 1965. Runtuhnya kekuasaan Soekarno dan lahirnya Orde Baru membawa konsekuensi besar bagi orang-orang yang dianggap dekat dengan pemerintahan sebelumnya.

Dalam pusaran politik itu, Teuku Markam ikut terseret. Kedekatannya dengan Soekarno justru menjadi beban. Ia dituduh melakukan korupsi dan bahkan dikaitkan dengan PKI—sebuah tuduhan yang pada masa itu sering digunakan untuk menyingkirkan tokoh-tokoh tertentu.

Pada 1966, Markam ditangkap. Ia kemudian dipenjara selama delapan tahun. Banyak sumber menyebut proses hukum yang dijalaninya tidak transparan dan sarat nuansa politik.

Aset Disita, Nama Tercoreng

Tak hanya kehilangan kebebasan, Teuku Markam juga kehilangan hampir seluruh hartanya. Aset-asetnya disita negara, dan perusahaannya diambil alih. Dari seorang pengusaha besar yang disegani, ia berubah menjadi tahanan politik tanpa kekuatan ekonomi.

Ketika akhirnya bebas pada 1974, kondisinya tidak lagi seperti dulu. Reputasinya telah rusak, jaringan bisnisnya hancur, dan upayanya untuk mendapatkan kembali asetnya tidak membuahkan hasil.

Kisah Teuku Markam mencerminkan kerasnya dinamika politik Indonesia pada masa transisi kekuasaan. Ia pernah menjadi simbol kesuksesan dan nasionalisme, namun kemudian dicap sebagai pengkhianat negara.

Warisan yang Tetap Abadi

Teuku Markam wafat pada 1985 dalam kondisi yang jauh berbeda dari masa jayanya. Namun warisannya tetap berdiri kokoh di jantung ibu kota. Setiap kali cahaya matahari memantul dari emas di puncak Monas, di situlah jejak kontribusinya masih bersinar.

Kisah Teuku Markam bukan sekadar cerita tentang sumbangan 28 kilogram emas untuk Monas. Ini adalah potret tentang bagaimana sejarah dan politik dapat mengangkat sekaligus menjatuhkan seseorang dalam waktu singkat. Ia memberi emas untuk negara, tetapi sejarah mencatat hidupnya berakhir dalam bayang-bayang kontroversi.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow