Keramahan Warga hingga Hutan Banyuwangi Bikin Delegasi 16 Negara Terpukau
Keramahan masyarakat serta keindahan hutan Banyuwangi meninggalkan kesan mendalam bagi 36 delegasi dari 16 negara yang mengikuti Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber.
Keramahan masyarakat serta keindahan hutan Banyuwangi meninggalkan kesan mendalam bagi 36 delegasi dari 16 negara yang mengikuti Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber.
Selama empat hari berada di Banyuwangi, para peserta mengaku kagum dengan pengelolaan kehutanan, perkebunan, hingga sambutan hangat yang mereka terima dari masyarakat setempat.
Salah satu peserta, Facundo Gonzalez, yang bertugas di Unit Lingkungan Hidup, Perubahan Iklim, dan Perdagangan Kementerian Luar Negeri Argentina, mengaku kunjungannya ke Banyuwangi menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Indonesia bahkan menjadi negara pertama di Asia yang ia kunjungi.
"Ini pertama kalinya saya datang ke Asia, jadi rasanya luar biasa sekali bisa berada di Indonesia. Ini adalah negara Asia pertama yang saya pijak, dan menurut saya sejauh ini keramahan orang-orang Indonesia benar-benar luar biasa. Saya bisa merasakannya setelah seharian di sini," ujar Facundo.
Delegasi dari Argentina yang ketemu Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, pada Rabu (24/6/2026) itu, juga mengaku terpesona dengan kekayaan alam Banyuwangi, terutama kawasan hutan yang sebelumnya telah mereka kunjungi.
Menurut Facundo, pengalaman berada di tengah hutan Banyuwangi memberikan suasana yang berbeda dibandingkan hutan-hutan di negaranya.
"Saya sudah sering ke berbagai hutan, di Argentina kami juga punya hutan, tapi yang satu ini benar-benar berbeda. Menariknya, kami bisa mendengar suara azan dari masjid, dan di saat yang sama kami sedang berada di tengah hutan," katanya.
Facundo menilai, perpaduan antara keindahan alam dan nuansa religius tersebut menciptakan pengalaman yang unik sekaligus memberikan kesan spiritual yang mendalam.
"Hal itu menciptakan suasana yang sangat unik dan terasa cukup spiritual. Bagi saya pribadi, saya sangat menghargai momen itu. Rasanya menyenangkan sekali bisa berada di sana," imbuhnya.
Kesan serupa juga disampaikan delegasi asal Ghana, Ophilious Lambog dari Timber Industry Development Division, Forestry Commission Ghana. Dia mengaku tidak hanya terkesan dengan pengelolaan kehutanan di Banyuwangi, tetapi juga dengan keramahan masyarakat serta kuliner khas daerah.
"Kami juga terkesan dengan kehangatan warga Banyuwangi. Makanannya juga sangat enak," ujarnya.
Sebanyak 36 delegasi dari 16 negara mengikuti kegiatan yang digelar Kementerian Luar Negeri RI bersama Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University tersebut.
Mereka berasal dari Argentina, Brazil, Guatemala, Bolivia, Colombia, Ecuador, Mexico, Ghana, Honduras, Republik Dominika, Nigeria, Saint Lucia, Pantai Gading, Papua Nugini, Malaysia, dan Thailand.
Selama 24–27 Juni 2026, para peserta yang terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, diplomat, hingga pelaku usaha mempelajari berbagai praktik pengelolaan pertanian, perkebunan, dan industri kayu berkelanjutan di Banyuwangi.
Kepala CTSS IPB University, Prof. Damayanti Buchori, menjelaskan program peningkatan kapasitas tersebut bertujuan memperkenalkan praktik pengelolaan komoditas kayu yang legal, berkelanjutan, dan memiliki daya saing tinggi.
"Banyuwangi memberikan ruang yang baik untuk melihat praktik lapangan, teknologi, dan perkembangan sektor timber berkelanjutan di Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan apresiasinya karena Bumi Blambangan dipercaya menjadi lokasi pembelajaran bagi para delegasi internasional.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang berbagi pengalaman, tetapi juga membuka peluang bagi Banyuwangi untuk memperoleh berbagai wawasan baru dalam pengembangan sektor kehutanan dan perkebunan.
"Kami berharap Banyuwangi juga mendapatkan insight berharga untuk pengembangan perkebunan dan kehutanan di masa mendatang," tutur Ipuk. (*)
Pewarta: Muhamad Ikromil Aufa
Apa Reaksi Anda?