Kepemimpinan Donald Trump Makin Tak Terkendali, Harga Minyak Melambung Lagi
Iran sudah tidak mau lagi berdiplomasi bahkan telah menutup rapat-rapat pintu perdamaiannya karena Donald Trump dinilai tidak sabar dan berulang kali salah memahami.
JAKARTA - Gaya kepemimpinan presiden AS, Donald Trump yang tidak bisa diandalkan dan tidak terkendali, telah menabur kebingungan dan kekacauan diplomatik dalam diplomasi dengan Iran.
Efeknya, kini Iran sudah tidak mau lagi berdiplomasi bahkan telah menutup rapat-rapat pintu perdamaiannya karena Trump tidak sabar dan berulang kali salah memahami perlunya melanjutkan secara berurutan atau mempertimbangkan sensitivitas di pihak Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan, Amerika Serikat mengejar tujuan jahat dan kurang memiliki keseriusan yang diperlukan dalam hubungannya dengan Republik Islam Iran.
Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut dalam percakapan telepon dengan Menlu Pakistan, Muhammad Ishaq Dar pada hari Minggu di tengah laporan bahwa Islamabad akan menjadi tuan rumah putaran kedua negosiasi antara Iran dan AS dalam beberapa hari mendatang.
Presiden Donald Trump mengumumkan pada hari Minggu bahwa ia akan mengirim delegasi ke ibu kota Pakistan untuk melakukan pembicaraan dengan Iran, karena gencatan senjata selama dua minggu antara Teheran dan Washington akan berakhir pada 22 April.
Trump, seperti perilakunya selama ini, juga memberikan ancaman kepada Iran dengan mengatakan, bahwa AS akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Iran belum mengkonfirmasi apakah akan mengirim delegasi ke Pakistan untuk pembicaraan tersebut, karena tuntutan AS yang berlebihan, perubahan posisi, blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran, serta ancaman yang terus-menerus, dan itu telah menghambat kemajuan dalam negosiasi.
Araghchi mengatakan kepada menteri luar negeri Pakistan, bahwa pelanggaran perjanjian gencatan senjata, ancaman terhadap pelabuhan, pantai, dan kapal Iran, retorika yang mengancam, tuntutan yang tidak masuk akal, dan pernyataan yang terus-menerus saling bertentangan adalah tanda-tanda jelas dari niat jahat AS dan kurangnya keseriusan dalam diplomasi.
Dan Iran, kata Araghchi, akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk melindungi kepentingan dan keamanan nasional.
AS Meneror Kapal
Sementata itu Amerika Serikat, hari Minggu kemarin melakukan tindakan agresi yang terang-terangan terhadap kapal dagang Iran di perairan Laut Oman, dengan mengerahkan marinirnya, menteror ke dek kapal dan menonaktifkan sistem navigasinya.
Pasukan AS melancarkan serangan tanpa provokasi terhadap kapal kontainer Iran, Toska, yang sedang berlayar dengan damai dari China ke Iran melalui Teluk Oman.
Presiden AS Donald Trump sesumbar bahwa pasukan Amerika telah merebut kapal Iran tersebut, menyebut militer AS sebagai "kekuatan militer terbesar di dunia' yang kini sekali lagi terungkap sebagai pembajak utama di perairan internasional.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya pada Minggu malam mengutuk operasi kriminal yang dilakukan oleh Angkatan Laut AS.
"Amerika Serikat, sebagai agresor, melanggar gencatan senjata dan melakukan pembajakan maritim dengan menembaki kapal dagang Iran di perairan Laut Oman dan mendaratkan sejumlah marinir terorisnya di dek kapal, sehingga melumpuhkan sistem navigasinya,” kata Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari.
"Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera menanggapi pembajakan bersenjata dan pembalasan terhadap tentara AS ini,” tambahnya.
Sebagai respons langsung, pasukan Iran juga membalas dengan menargetkan beberapa kapal militer Amerika di daerah tersebut dengan serangan pesawat tak berawak.
Tindakan kriminal terbaru dari Amerika Serikat ini sekali lagi membuktikan bahwa Amerika Serikat tetap menjadi sumber utama terorisme dan ketidakstabilan di seluruh Asia Barat.
Harga lain yang harus dibayar sekarang adalah melangitnya kembali harga minyak.
Harga minyak mentah AS melonjak lebih dari 7 persen, menjadi sekitar $90 per barel, dan harga minyak mentah Brent internasional naik 5 persen, menjadi sekitar $95 per barel.
Kontrak berjangka S&P 500 turun hampir 0,8 persen, kontrak berjangka Nasdaq 100 turun 0,7 persen, dan kontrak berjangka Dow anjlok 500 poin, atau 0,7 persen. Kontrak berjangka Russell 2000 merosot 1,4 persen.
Harga gas grosir juga naik lebih dari 4 persen, dan harga minyak pemanas berjangka, yang merupakan indikator harga bahan bakar jet, juga melonjak 7 persen. Harga gas alam naik 2 persen. (*)
Apa Reaksi Anda?