Kemarau Belum Aman, BPBD Kota Malang Warning Warga DAS

Musim kemarau di Kota Malang dipastikan mulai berlangsung. Namun, kondisi cuaca yang masih kerap diguyur hujan dan angin kencang membuat ancaman bencana belum benar-benar reda.

Mei 23, 2026 - 13:31
Kemarau Belum Aman, BPBD Kota Malang Warning Warga DAS

MALANG - Musim kemarau di Kota Malang dipastikan mulai berlangsung. Namun, kondisi cuaca yang masih kerap diguyur hujan dan angin kencang membuat ancaman bencana belum benar-benar reda. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mengingatkan warga agar tidak lengah, terutama masyarakat yang tinggal di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) dan kawasan rawan longsor.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Malang, Prayitno mengatakan, meski secara umum wilayah telah memasuki musim kemarau berdasarkan rilis dari BMKG, kondisi di lapangan menunjukkan cuaca masih fluktuatif.

“Secara umum kita memang sudah masuk musim kemarau, tetapi fakta di lapangan pagi masih mendung, sore kadang hujan. Jadi kami melihatnya evidence-based, berdasarkan kondisi nyata,” ujar Prayitno, Sabtu (23/5/2026).

Menurutnya, BPBD kini mengalihkan fokus pada dampak cuaca panas yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dibanding sebelumnya. Namun demikian, potensi bencana hidrometeorologi seperti longsor, banjir lokal, hingga pohon tumbang tetap menjadi perhatian karena cuaca yang belum sepenuhnya stabil.

Prayitno mengungkapkan, pihaknya terus memperbarui pemantauan kondisi wilayah bersama pejabat kewilayahan dan lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Informasi prediksi cuaca juga dirilis setiap hari dan diperbarui tiap dua jam untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

“Kami tetap update kejadian di wilayah dan mengirim peringatan dini agar masyarakat waspada. Walaupun seminggu terakhir tidak ada kejadian ekstrem, bantuan tetap kami kirim pada lokasi terdampak bencana,” ungkapnya.

Di tengah musim kemarau, BPBD memberi perhatian khusus terhadap ancaman kebakaran lahan maupun permukiman. Koordinasi telah dilakukan dengan dinas terkait untuk mengantisipasi risiko kebakaran di area perkebunan tebu, termasuk melalui kelompok tani (Gapoktan). Sementara itu, perangkat pompa air di wilayah rawan genangan seperti Sukun juga disebut telah diperbarui untuk mengantisipasi situasi darurat.

Namun yang menjadi sorotan serius BPBD adalah ancaman longsor di sepanjang sempadan sungai. Prayitno menyebut kawasan sepanjang DAS, mulai dari Muharto hingga Bumiayu, masih memiliki kerentanan tinggi karena banyak permukiman berdiri melampaui batas sempadan sungai.

“Warga yang tinggal di sepanjang DAS itu otomatis menanggung risiko karena pinggiran sungai memiliki keterbatasan daya dukung. Kenapa ada aturan batas 10 sampai 15 meter dari sempadan sungai, karena fluktuasi alam dan potensi longsor memang terjadi,” jelasnya.

Ia mengakui secara ideal kawasan sempadan sungai harus steril dari hunian sesuai regulasi teknis pemerintah pusat. Namun di lapangan, kondisi sosial membuat banyak warga masih tinggal di bantaran sungai.

Karena itu, BPBD terus berkoordinasi dengan dinas teknis seperti PU, bidang sumber daya air, hingga pihak pengelola sungai untuk membahas mitigasi, termasuk persoalan penyempitan aliran dan penguatan pengawasan kawasan rawan longsor.

Meski ancaman kekeringan di Kota Malang dinilai relatif lebih kecil dibanding daerah lain yang memiliki hutan dan lahan luas, Prayitno mengungkapkan debit air permukaan telah turun hingga sekitar 60 persen. Dampaknya, sebagian sumur warga mulai dangkal. Kendati demikian, kebutuhan air disebut masih dapat tertangani melalui layanan PDAM.

BPBD juga mengingatkan masyarakat agar tidak terkecoh dengan status musim kemarau. Fenomena hujan lokal masih mungkin terjadi hingga beberapa bulan ke depan, terutama seiring pola cuaca yang dipengaruhi El Nino.

“Prediksi umumnya memang kemarau sampai sekitar Oktober-November. Tapi secara parsial masih ada hujan di sejumlah daerah, sehingga longsor akibat pelunakan tanah di sepanjang sungai tetap harus diwaspadai,” pungkasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow