Stunting Turun Signifikan, BKKBN/Kemendukbangga Jabar Optimistis Tembus di Bawah 10 Persen
BKKBN Jawa Barat optimistis angka stunting turun di bawah 10 persen pada 2029 melalui intervensi tepat sasaran, program MBG 3B, dan penguatan gizi keluarga.
BANDUNG - Upaya percepatan penurunan stunting di Jawa Barat mulai menunjukkan hasil positif. Pemerintah optimistis angka prevalensi stunting di provinsi tersebut dapat ditekan hingga di bawah 10 persen dalam beberapa tahun mendatang melalui berbagai intervensi yang kini semakin terukur dan tepat sasaran.
Optimisme itu disampaikan Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Jawa Barat, Dadi Ahmad Roswandi, di sela kegiatan penyaluran daging kurban bagi 400 keluarga risiko stunting (KRS) di Kota Bandung dan Kota Cimahi, Kamis (28/5/2026).
Menurut Dadi, saat ini prevalensi stunting di Jawa Barat berada di kisaran 12,9 persen hingga 15,9 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut dapat terus ditekan secara bertahap hingga berada di bawah 10 persen pada 2029.
“Kita optimistis stunting di Jawa Barat bisa turun signifikan. Sekarang intervensinya lebih terukur karena sudah berbasis by name by address,” ujar Dadi.
Ia menjelaskan, berbagai program penanganan stunting kini dilakukan secara kolaboratif melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tingkat provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota.
Pendekatan yang dilakukan tidak lagi bersifat umum, melainkan fokus pada keluarga dan wilayah yang benar-benar masuk kategori risiko stunting.
Salah satu program yang dinilai mulai menunjukkan dampak positif adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di sejumlah lokus stunting di Jawa Barat.
Berdasarkan data Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jawa Barat, penerima manfaat program MBG 3B kini mencapai sekitar 1,4 juta orang di berbagai daerah.
Dadi menilai program tersebut mulai memberikan hasil yang cukup terlihat, terutama di kawasan Bandung Raya.
“Di beberapa wilayah yang kami lakukan treatment di Bandung Raya, penurunannya lumayan luar biasa,” katanya.
Menurut dia, keberhasilan penanganan stunting tidak hanya bergantung pada bantuan pangan, tetapi juga konsistensi intervensi kesehatan, edukasi keluarga, dan pemenuhan protein hewani untuk anak-anak serta ibu hamil.
Karena itu, momentum Iduladha tahun ini juga dimanfaatkan BKKBN Jawa Barat untuk memperkuat dukungan gizi bagi keluarga risiko stunting melalui penyaluran daging kurban.
Pada Iduladha 2026, Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jawa Barat menyembelih dua ekor sapi dan dua ekor kambing hasil gotong royong penyuluh KB dan aparatur sipil negara (ASN). Dana pembelian hewan kurban dikumpulkan secara swadaya dengan nominal mulai dari Rp5.000 - Rp.10.000.
“Kalau kurban biasanya sifatnya individu, tapi di sini substansinya adalah sedekah untuk membantu keluarga risiko stunting,” ujar Dadi.
Ia mengatakan jumlah hewan kurban tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya. Hal itu menunjukkan semakin tingginya kepedulian para penyuluh KB dan ASN terhadap upaya penanganan stunting di masyarakat.
Daging kurban dipilih karena protein hewani dinilai memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah stunting sejak dini.
“Biasanya kami memberikan bantuan telur, sekarang lebih konkret dalam bentuk daging. Karena masih banyak keluarga risiko stunting yang belum mendapatkan daging kurban,” katanya.
Selain itu, BKKBN Jawa Barat juga tengah mempersiapkan pelaksanaan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) atau Survei Kesehatan Indonesia (SKI) untuk mengukur perkembangan terbaru angka stunting di daerah tersebut.
Dadi berharap hasil survei mendatang mampu menunjukkan tren penurunan yang lebih signifikan seiring semakin kuatnya kolaborasi lintas sektor dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemenuhan gizi keluarga.
“Yang paling penting sekarang adalah semua intervensi berjalan tepat sasaran dan masyarakat ikut bergerak bersama,” pungkasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?