Kelas Bahasa Isyarat Jadi Ruang Bangun Kesadaran Inklusif Mahasiswa

Masih banyak mahasiswa yang mengaku bingung saat harus berkomunikasi dengan mahasiswa Tuli di lingkungan kampus. EM Universitas Brawijaya untuk menggelar kelas bahasa isyarat sebagai upaya membangun k

Mei 29, 2026 - 22:30
Kelas Bahasa Isyarat Jadi Ruang Bangun Kesadaran Inklusif Mahasiswa

MALANG - Masih banyak mahasiswa yang mengaku bingung saat harus berkomunikasi dengan mahasiswa Tuli di lingkungan kampus. Kondisi tersebut dinilai menjadi tanda bahwa ruang inklusivitas di perguruan tinggi masih perlu dikembangkan. Hal ini yang melatarbelakangi Kementerian Sosial dan Masyarakat (Sosma) Eksekutif Mahasiswa (EM) Universitas Brawijaya untuk menggelar kelas bahasa isyarat sebagai upaya membangun kesadaran dan pemahaman terhadap budaya Tuli di lingkungan kampus.

Wakil Menteri Sosma EM UB, Alfisyahrin Cahaya Lintang Firdaus menyampaikan bahwa berdasarkan hasil riset dan diskusi bersama mahasiswa disabilitas, masih banyak mahasiswa inklusif yang merasa belum sepenuhnya diterima di lingkungan kampus.

“Mereka merasa berbeda dan terkadang terpinggirkan karena mahasiswa lain belum memahami cara berkomunikasi ataupun kebutuhan mereka,” ujarnya.

Selama ini, sebagian mahasiswa Tuli bergantung pada relawan pendamping atau penerjemah bahasa isyarat selama proses pembelajaran berlangsung.

Kelas bahasa isyarat merupakan langkah kecil yang dilakukan demi meningkatkan kesadaran inklusivitas di lingkungan kampus. Alfin menambahkan tidak harus langsung bisa bahasa isyarat, tetapi minimal meningkatkan kepekaan sosial terkait bagaimana cara memahami teman disabilitas, cara berkomunikasi dengan mereka, hingga belajar lebih jauh lagi tentang mereka. 

“Terkadang mahasiswa tuh bukan gak mau berkomunikasi, tapi bingung bagaimana cara nge-treat teman disabilitas,” tambahnya.  

Alfin menambahkan bahwa mahasiswa disabilitas juga dinilai menghadapi tantangan besar setelah lulus kuliah. Salah satunya terkait akses pekerjaan dan kesempatan karir yang masih terbatas. Atas hal tersebut, pihaknya berusaha menjadi jembatan untuk teman-teman inklusif bisa mendapatkan upgrading atau bekal kehidupan pascakampus. 

Belajar bahasa isyarat

“Teman-teman inklusif juga perlu mengetahui bahwa mereka tetap punya peluang dan masa depan setelah lulus,” imbuhnya. 

Untuk itu, kegiatan ini juga akan mengadakan rangkaian lanjutan berupa expo career khusus bagi teman disabilitas. Lanjut Alfin, nantinya mereka akan difasilitasi untuk memilih dan mendaftar perusahaan, termasuk pelatihan membuat cv, esai, dan bekal dalam memasuki dunia industri lainnya. 

Sementra itu, ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Fadhil menambahkan bahwa mahasiswa masih menganggap isu inklusivitas sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD). Padahal, lingkungan inklusif seharusnya dibangun bersama oleh seluruh sivitas akademika.

“Mahasiswa juga harus punya kesadaran untuk memahami dan mendukung teman-teman disabilitas,” pungaksnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow