Kasus Leptospirosis Pacitan Tembus 147, Tiga Pasien Baru Muncul dalam 10 Hari

Kasus leptospirosis di Pacitan mencapai 147 kasus hingga awal Juni 2026. Kenaikan mulai landai, namun warga berisiko tinggi diminta waspada dan memakai APD saat kontak air dan tanah.

Juni 3, 2026 - 12:31
Kasus Leptospirosis Pacitan Tembus 147, Tiga Pasien Baru Muncul dalam 10 Hari

PACITAN - Kasus leptospirosis di Kabupaten Pacitan mencapai 147 kasus hingga awal Juni 2026. Jumlah itu bertambah tiga kasus dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 144 kasus.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan menyebut penambahan kasus mulai melandai. Dalam 10 hari terakhir hanya terdapat tiga pasien baru, masing-masing dua kasus dari Kecamatan Nawangan dan satu kasus dari Kecamatan Tulakan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pacitan, drg Nur Farida, mengatakan tren kasus saat ini relatif terkendali.

“Sudah sangat landai,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Meski demikian, potensi penularan masih perlu diwaspadai. 

Berdasarkan penelitian tahun 2015 saat kegiatan gropyok tikus, sekitar 70 persen tikus yang diperiksa terbukti membawa bakteri leptospira penyebab leptospirosis.

sawahSawah menjadi habitat tikus di Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Menurut Farida, tikus pembawa bakteri tidak bisa dibedakan secara fisik dengan tikus biasa. 

Karena itu, kelompok yang sering kontak dengan air dan tanah diminta meningkatkan kewaspadaan.

Kelompok paling berisiko meliputi petani, pekerja selokan, warga yang sering berada di area berlumpur, hingga masyarakat yang beraktivitas di lingkungan yang berpotensi tercemar urine tikus.

“Diharapkan memakai alat pelindung diri (APD),” kata Farida.

Leptospirosis umumnya ditandai demam mendadak, sakit kepala, nyeri otot terutama di bagian betis, mata merah, muntah, diare, nyeri perut, batuk, hingga kulit dan mata menguning.

Mengacu data Kementerian Kesehatan RI, gejala biasanya muncul 5–14 hari setelah terpapar bakteri Leptospira. Namun, gejala dapat muncul lebih cepat atau hingga 30 hari setelah paparan.

Warga yang mengalami gejala seusai membersihkan selokan, bekerja di sawah, atau kontak dengan air dan tanah berisiko diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

“Pasien harus cerita detail, misal gejala dirasakan setelah membersihkan selokan, pergi ke sawah, atau sebagainya, untuk penanganan lebih dini,” jelasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow