Kalah “War Ticket" Kereta Api, Ibu Lima Anak Ini Tetap Pulang Kampung Berkat Mudik Gratis
Kisah Laras Anjani yang gagal “war ticket” namun berhasil mudik gratis bersama lima anak lewat program CSR Pupuk Kujang 2026, menghemat biaya hingga jutaan rupiah.
TASIKMALAYA Udara subuh di Cikampek masih terasa dingin menusuk kulit ketika langkah-langkah kecil mulai memecah kesunyian. Di pelataran helipad milik Pupuk Kujang, ratusan orang tampak bersiap memulai perjalanan panjang menuju kampung halaman.
Koper, tas jinjing, dan wajah-wajah penuh harapan memenuhi area pemberangkatan. Di antara keramaian itu, sosok perempuan muda tampak mencuri perhatian. Dialah Laras Anjani (34).
Kedua tangannya menggandeng dua anak kecil, sementara di pundaknya terikat gendongan bayi yang sesekali merengek. Di sampingnya, sang suami membantu membawa tas sekaligus menggandeng dua anak lainnya.
Total, lima anak mereka bawa dalam perjalanan mudik tahun ini. Pemandangan itu bukan sekadar potret keluarga besar yang hendak pulang kampung. Ini adalah kisah tentang perjuangan, harapan, dan keberuntungan yang datang di saat yang tak terduga.
Seperti jutaan masyarakat Indonesia lainnya, Laras sempat merasakan pahitnya berburu tiket mudik. Ia mencoba peruntungan dalam fenomena yang kini dikenal luas sebagai “war ticket”—persaingan ketat mendapatkan tiket kereta api menjelang Lebaran. Namun, hasilnya nihil.
“Saya sudah coba berkali-kali, tapi gak dapat tiket,” ujarnya. Rabu (18/3/2026).
Di tengah keputusasaan itu, Laras mencoba cara sederhana—mencari di internet.
“Saya iseng googling pakai kata kunci mudik gratis, terus muncul website Pupuk Kujang,” katanya.
Dari situlah titik balik terjadi. Dari pencarian sederhana ke kepastian mudik, tanpa berpikir panjang, Laras membuka halaman pendaftaran program Mudik Gratis dari Pupuk Kujang.
Ia langsung mendaftarkan seluruh anggota keluarganya. Dan hasilnya? Mereka dinyatakan lolos.
“Alhamdulillah akhirnya ada kepastian mudik. Kalah war tiket kereta pun gak masalah,” ujarnya dengan senyum lega.
Bagi Laras, ini bukan sekadar keberuntungan. Ini adalah jawaban dari kegelisahan yang sempat ia rasakan.
Mudik bagi keluarga dengan lima anak bukan perkara sederhana-terutama dari sisi biaya.
Tiket transportasi, konsumsi selama perjalanan, hingga kebutuhan darurat bisa menguras tabungan.
Namun lewat program ini, semua itu terpangkas. Laras memperkirakan dirinya bisa menghemat hingga jutaan rupiah.
“Biaya ongkos bisa dipakai buat kebutuhan lain. Ini sangat membantu,” katanya.
Uang yang seharusnya habis di perjalanan kini bisa dialihkan untuk kebutuhan Lebaran di kampung halaman—mulai dari makanan, pakaian anak-anak, hingga berbagi dengan keluarga.
Komitmen Laras untuk mudik terlihat dari pengorbanan kecil yang ia lakukan. Demi memastikan tidak terlambat, ia memilih menginap di sekitar lokasi pemberangkatan.
“Takut telat kalau berangkat dari rumah subuh-subuh,” ujarnya.
Keputusan itu terbukti tepat. Ia dan keluarganya bisa mengikuti proses keberangkatan dengan tenang, tanpa terburu-buru.
Sehari-hari, Laras adalah pedagang kupat tahu di Cikarang. Penghasilannya tidak menentu, terlebih dengan tanggungan keluarga besar.
Namun baginya, mudik bukan sekadar perjalanan. Ini adalah momen penting untuk kembali ke akar, mempererat silaturahmi, dan memberikan pengalaman berharga bagi anak-anaknya.
Tujuan mereka adalah Banjarsari kampung halaman yang menyimpan kenangan masa kecil dan kehangatan keluarga.
Cerita serupa datang dari Zaenal Muttaqien (41), seorang pedagang cuanki asal Garut yang merantau di Karawang sejak 1999.
Ini adalah kali kedua ia mengikuti program mudik gratis. “Tahun ini yang kedua. Saya selalu usahakan ikut karena nyaman,” katanya.
Menurutnya, kenyamanan adalah nilai utama dari program ini. Ia tidak perlu lagi berdesakan di terminal atau khawatir terhadap risiko kriminalitas.
“Gak perlu takut kecopetan, gak perlu berdiri di bus. Tinggal duduk nyaman,” ujarnya.
Selain nyaman, perjalanan juga lebih efisien, Armada bus tidak berhenti sembarangan untuk mencari penumpang, sehingga waktu tempuh lebih singkat.
“Perjalanan lebih ringkas. Kita langsung sampai tujuan tanpa banyak berhenti,” kata Zaenal.
Hal ini menjadi keunggulan besar, terutama bagi pemudik yang membawa anak kecil seperti Laras.
Pada tahun 2026, Pupuk Kujang kembali menggelar program Mudik Gratis sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Sebanyak 354 pemudik diberangkatkan menggunakan enam unit bus premium menuju berbagai daerah di Jawa Barat.
Direktur Utama Pupuk Kujang, Budi Santoso Syarif, menegaskan komitmen perusahaan dalam membantu masyarakat.
“Program ini adalah bentuk komitmen kami untuk membantu masyarakat, khususnya dalam momen penting seperti mudik Lebaran,” ujarnya.
Mudik gratis telah menjadi fenomena tahunan di Indonesia, terutama menjelang Idul Fitri. Program ini biasanya diselenggarakan oleh pemerintah, BUMN, dan perusahaan swasta sebagai bentuk kepedulian sosial.
Dalam beberapa tahun terakhir, program ini semakin diminati karena tingginya harga tiket transportasi dan meningkatnya jumlah pemudik.
Perusahaan seperti Pupuk Kujang memainkan peran penting dalam membantu masyarakat tetap bisa pulang kampung dengan aman dan layak.
Bagi Laras, Zaenal, dan ratusan pemudik lainnya, perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari kota ke desa. (*)
Apa Reaksi Anda?