Iran Tutup Selat Hormuz, Pasokan Minyak Global Terancam

Iran menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional menyusul serangan AS dan Israel, mengancam 20 persen pasokan minyak dunia.

Maret 1, 2026 - 17:30
Iran Tutup Selat Hormuz, Pasokan Minyak Global Terancam

JAKARTA Keputusan Iran menutup Selat Hormuz menjadi sinyal eskalasi serius di Timur Tengah. Jalur laut yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global itu kini dinyatakan tertutup untuk pelayaran internasional hingga waktu yang belum ditentukan.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Garda Revolusi Iran pada Sabtu (28/2/2026), sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai “serangan Amerika Serikat dan Israel” terhadap wilayah Iran dalam beberapa jam terakhir.

Islamic Revolutionary Guard Corps menyatakan penutupan Selat Hormuz telah berlaku efektif. Seorang pejabat senior Garda Revolusi dikutip media setempat menegaskan bahwa langkah ini merupakan respons langsung atas agresi yang dinilai mengancam kedaulatan Iran.

Laporan Reuters menyebutkan kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut menerima pesan radio berulang pada frekuensi tinggi dari pihak Iran, berisi peringatan bahwa tidak ada kapal tanker yang diizinkan melintas.

Sejumlah kapal tanker yang sebelumnya menuju Selat Hormuz dilaporkan berbalik arah. Banyak lainnya memilih berhenti dan menunggu di sekitar pintu masuk selat sejak serangan udara dimulai.

Selat Hormuz: Titik Kritis Energi Dunia

Strait of Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Selat sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas dan menjadi jalur utama ekspor minyak dari negara-negara produsen energi utama kawasan.

Data industri energi menunjukkan sekitar seperlima pasokan minyak global—serta volume signifikan gas alam cair (LNG)—melewati jalur ini setiap hari. Gangguan di kawasan tersebut hampir selalu berdampak langsung pada harga minyak dunia dan stabilitas pasar energi.

Sejauh ini belum ada pengumuman resmi tambahan dari Teheran terkait durasi penutupan. Namun media Iran menyebut jalur tersebut “praktis tertutup,” mengindikasikan penghentian lalu lintas energi dalam skala besar.

Risiko Geopolitik dan Stabilitas Kawasan

Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar isu maritim, melainkan juga krisis geopolitik yang berpotensi meluas. Jalur ini selama dekade terakhir kerap menjadi titik ketegangan antara Iran dan kekuatan Barat, terutama ketika konflik regional meningkat.

Jika situasi berlanjut, pasar global berpotensi menghadapi lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, serta peningkatan risiko keamanan di perairan Teluk.

Perkembangan ini menempatkan Selat Hormuz kembali sebagai barometer stabilitas Timur Tengah—dan sekaligus indikator awal tekanan ekonomi global dalam waktu dekat. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow