Imbas Perekonomian Dari Pelaksanaan Tradisi Petik Laut Muncar Banyuwangi

Tradisi petik laut di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang digelar setiap 15 Muharram. ...

Agustus 3, 2023 - 11:40
Imbas Perekonomian Dari Pelaksanaan Tradisi Petik Laut Muncar Banyuwangi

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Tradisi petik laut di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang digelar setiap 15 Muharram. Bukan hanya ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil laut yang telah dilimpahkan. Nyatanya upacara ini juga membawa imbas terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Ratusan pelaku UMKM ikut berpartisipasi pada bazar dalam rangkaian tradisi petik laut ini. Mulai dari pedagang asongan, jajanan kuliner hasil olahan ikan, penjual aksesoris hingga pedagang hand craft, merasakan peningkatan ekonomi dengan terselenggaranya tradisi petik laut Muncar.

Berderet stand pelaku UMKM memenuhi pelabuhan Muncar, nampak ramai dipadati pengunjung yang ingin menikmati beraneka produk dagangan. Seperti salah satu penjual kerajinan aksesoris hiasan rumah atau hand craft dari batok kelapa, bernama Suryanto. 

Suryanto menyebut, jika dengan adanya tradisi petik laut ini sangat membantu meningkatkan penghasilannya. Pasalnya dihari biasa ia sedikit kesulitan memasarkan produk kerjinan miliknya. Dengan adanya bazar UMKM ini, ternyata dapat menjadi sumber cuan yang tak terduga.

“Syukur Alhamdulillah hasil kerajinan batok kelapa saya dilirik disini, terlebih saat berjualan di agenda ini, saya pernah sehari bisa mendapatkan Rp600.000,” tutur Suryanto, Rabu, (2/8/2023).

Pria asal Desa Sukonatar, Kecamatan Srono, Banyuwangi itu, mengatakan hand craft yang diproduksinya memiliki beberapa variasi harga. Untuk kerajinan batok berbentuk bonsai ukuran besar dibandrol dengan harga Rp250.000, sedangkan untuk bonsai ukuran kecil, dihargai lebih murah yaitu Rp200.000. Selain kerajinan batok berbentuk bonsai ada juga berbentuk celengan boneka yang lucu, ia menjualnya dengan harga Rp75.000 saja. Sedangkan produk barang yang paling laris miliknya adalah pipa rokok atau cangklong.

Pemilik nama Facebook Suryanto Tole Anugerah itu, juga bercerita, pada event petik laut tersebut ada pembeli dari Lampung yang memborong sebanyak 6 biji cangklong. Terlebih, ada juga turis asal New Zealand yang datang untuk melihat tradisi petik laut muncar dan membeli bonsai batok miliknya.

“Untuk cangklong saya jual Rp100.000. bersyukur dengan adanya petik laut ini,” tandas, Suryanto.

Sementara itu, penjual jajanan makanan goreng dan minuman milik Heni Widyawati, asal Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, juga mengatakan hal serupa. Selama serangkaian acara tradisi petik laut ini, ia mendapat keuntungan lebih dari biasanya.

“Alhamdulillah sehari bisa dapat kurang lebih Rp400.000, biasanya tak sampai segitu. Paling laris sosis sama minuman dingin,” tukasnya.

Ojek-nelayan.jpgOjek nelayan ramai dipadati pengunjung yang hendak melihat sesaji yang dilarung dalam tradisi petik laut Muncar. (FOTO : Anggara Cahya /TIMES Indonesia)

Bukan hanya pelaku UMKM saja, nelayan ojek pun ikut ketiban berkah dari tradisi petik laut. Seperti yang dikatakan oleh ojek nelayan Muhammad Fani. Ia yang berkeseharian sebagai nelayan ojek pengangkut ikan, juga turut merasakan imbas peningkatan perekonomian.

Pada saat upacara berlangsung, Fani sapaan karibnya, membanting setir menjadi kapal pengangkut penumpang untuk melihat proses melarung sesaji hingga mengantar ke Pantai Sembulungan di wilayah konservasi Taman Nasional Alas Purwo. Dalam sehari, Fani mengantar lebih dari 50 penumpang dengan tiga kali pulang pergi (PP).

“Momen ini menjadi berkah bagi kami ojek nelayan yang dalam sehari beralih profesi jadi kapal pengangkut wisata. Untuk PP Pelabuhan Muncar ke Pantai Sembulungan hanya Rp20.000 saja,” tukasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow