Harlah ke-2 Media Santri Ponorogo, RMI NU Ajak Santri Kuasai Algoritma dan Tangkal Kampanye Hitam

Pengelola media pondok pesantren didorong untuk memanfaatkan momentum libur panjang demi memacu algoritma agar bisa menembus For You Page (FYP) di berbagai platform media sosial.

Maret 9, 2026 - 12:00
Harlah ke-2 Media Santri Ponorogo, RMI NU Ajak Santri Kuasai Algoritma dan Tangkal Kampanye Hitam

PONOROGO Geliat dakwah digital dari kalangan pesantren di Kabupaten Ponorogo terus menunjukkan tren positif.

Hal ini tergambar jelas dalam kemeriahan Festival Media Santri Ponorogo yang digelar bertepatan dengan momen Nuzulul Quran sekaligus merayakan Harlah ke-2 Media Santri Ponorogo.

Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Ponorogo, Gus AbdurRohman Syah, menekankan bahwa santri hari ini memiliki potensi besar merajai ruang digital.

Ia mendorong pengelola media pondok pesantren untuk memanfaatkan momentum libur panjang demi memacu algoritma agar bisa menembus For You Page (FYP) di berbagai platform media sosial.

"Momentum liburan ini sangat pas untuk terus menambah produksi konten setiap hari," ujar Gus AbdurRohman Syah di hadapan perwakilan media pesantren se-Kabupaten Ponorogo, Senin (9/3/2026).

"Teman-teman santri sedang di rumah dan memegang gadget. Nanti letupannya ada di pasca-Syawal, ketika algoritma sudah mengikuti," imbuhnya.

Kritik Konten dan Strategi Dakwah

Media-Santri-Ponorogo-2.jpg

Dalam kesempatan tersebut, Gus AbdurRohman juga memberikan catatan taktis terkait kualitas konten. Ia mengimbau agar konten santri putri tidak sekadar menampilkan visual estetik, tetapi harus membawa pesan edukasi yang kuat.

"Kami butuh talent-talent santri putri yang cerdas, yang berani mengedukasi dengan penyampaian yang lugas dan keren, seolah-olah sudah menguasai ribuan kitab," tegasnya.

Sementara untuk konten santri putra, ia menyarankan strategi adaptif demi menjaga jangkauan penonton (reach).

Ia mencontohkan perlunya menghindari visual seperti merokok dalam video pendek di awal merintis akun, guna menghindari pembatasan algoritma atau serangan komentar negatif.

"Idealismenya ditaruh dulu, yang penting traffic naik saja dulu. Nanti kalau akun sudah besar dan kuat, baru ideologi dan nilai-nilai ke-NU-an kita susupkan pelan-pelan. Dunia maya itu sangat liar, kita harus menyesuaikan alirannya terlebih dahulu," imbuh Gus AbdurRohman.

Benteng Pertahanan Isu Pesantren

Poin krusial lain yang menjadi sorotan adalah fungsi media santri sebagai benteng pertahanan pesantren.

Gus AbdurRohman mengingatkan adanya siklus tahunan menjelang masa pendaftaran santri baru, di mana kerap bermunculan kampanye hitam yang mengekspos isu negatif untuk mendiskreditkan pondok pesantren.

"Jangan dikira kasus-kasus itu naik begitu saja, pasti selalu di-up menjelang pendaftaran pondok," paparnya.

"Tugas kita hari ini adalah membanjiri ruang digital dengan konten-konten terbaik. Kalau kita kompak bersatu, berita negatif itu akan tertutup oleh algoritma, sehingga pesantren di Ponorogo tidak dipandang sebelah mata," sambungnya.

Sementara Ketua Media Santri Ponorogo menuturkan bahwa peringatan Harlah ke-2 ini merupakan wujud nyata peningkatan literasi digital di kalangan pesantren.

Melalui pameran karya dan diskusi media, santri didorong untuk mensinergikan kemampuan teknis digital dengan kekayaan intelektual pesantren.

"Media santri adalah wajah peradaban pesantren di era kiwari. Lewat festival ini, kita ingin membuktikan bahwa santri tidak hanya mumpuni mengaji kitab kuning, tapi juga cerdas secara digital dan mampu menyuguhkan narasi dakwah yang mencerahkan bagi masyarakat," ungkapnya.

Kegiatan yang juga mendapat dukungan penuh dari pihak Akafarma Sunan Giri Ponorogo ini diharapkan menjadi agenda berkelanjutan, guna menyatukan ekosistem media-media pondok pesantren di Ponorogo untuk saling bahu-membahu dalam berkarya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow