Gubernur Pramono Ingin Semua Warga Bisa Ekspresikan Hari Besar Keagamaan di Jakarta
Pemprov DKI Jakarta menggelar Pawai Ogoh-Ogoh di Bundaran HI dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi 2026. Gubernur Pramono Anung menegaskan Jakarta sebagai kota multikultur yang menghargai keberagaman
JAKARTA Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya menghadirkan ruang yang inklusif bagi seluruh keyakinan untuk mengekspresikan tradisi keagamaannya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar Pawai Ogoh-Ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi 2026 di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo menegaskan bahwa Jakarta merupakan kota multikultur yang harus memberi ruang bagi setiap komunitas untuk merayakan tradisi keagamaannya.
“Memang Jakarta ini multikultur, multietnik, dan semuanya harus mendapatkan ruang, tempat untuk bisa mengekspresikan apa yang mereka yakini,” kata Pramono saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2026).
Dalam perayaan tersebut, kawasan Bundaran HI akan dihiasi dengan penjor, simbol khas dalam tradisi umat Hindu yang biasanya muncul saat Hari Raya Nyepi atau Galungan.
Penjor merupakan bambu tinggi melengkung yang dihias janur, hasil bumi, serta kain berwarna putih dan kuning. Dalam filosofi Hindu Bali, penjor melambangkan gunung suci, seperti Gunung Agung, sekaligus simbol keseimbangan alam dan rasa syukur atas kesejahteraan serta kemakmuran.
Pemasangan penjor di kawasan ikonik ibu kota ini menjadi simbol bahwa Jakarta menghargai keberagaman budaya dan tradisi masyarakatnya.
“Itulah menunjukkan bahwa Jakarta keberagaman menjadi hal yang keseharian kita,” ujar Pramono.
Pawai Ogoh-Ogoh dijadwalkan berlangsung pada Minggu pagi, mulai pukul 06.30 hingga 09.00 WIB. Rute pawai dimulai dari pintu barat daya kawasan Monumen Nasional, menyusuri Jalan MH Thamrin, hingga kembali ke titik awal.
Ogoh-ogoh sendiri merupakan patung raksasa yang melambangkan sifat buruk atau energi negatif yang secara simbolis dimusnahkan menjelang Nyepi.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda DKI Jakarta, Suharini Eliawati menjelaskan bahwa rangkaian perayaan Nyepi tahun ini dibagi dalam empat klaster kegiatan utama.
Kegiatan tersebut meliputi ritual keagamaan seperti Melasti, Tawur Agung Kesanga, Nyepi, hingga Ngembak Geni. Selain itu, terdapat kegiatan sosial kemasyarakatan, festival budaya, serta kegiatan edukasi bagi masyarakat.
Ritual Melasti dijadwalkan berlangsung pada 15 Maret 2026 di Pura Segara Cilincing, Jakarta Utara, yang akan dihadiri umat Hindu se-DKI Jakarta. Kemudian, Tawur Agung Kesanga dilaksanakan pada 18 Maret 2026 di Pura Aditya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur.
Selain kegiatan keagamaan, panitia juga menggelar berbagai program sosial dan budaya, antara lain bakti sosial, donor darah, pengobatan gratis, seminar literasi keuangan dan UMKM, serta festival budaya yang menampilkan parade ogoh-ogoh di ruang publik. (*)
Apa Reaksi Anda?