Equity LPDP–UNJ Perkuat SDGs 8 melalui Smartpreneur Syariah dan Strategi Pasar Global bagi UMKM Jakarta
Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui program Community Development (Comdev) EQUITY LPDP–UNJ menuntaskan rangkaian pengabdian kepada masyarakat bagi pelaku usaha mikro
JAKARTA - Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui program Community Development (Comdev) EQUITY LPDP–UNJ menuntaskan rangkaian pengabdian kepada masyarakat bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Yayasan Pemimpin Muda di Pisangan Baru, Jakarta Timur, sepanjang Januari–April 2026. Program ini menyasar 20 pelaku UMKM sebagai peserta utama, dengan dukungan dosen, mahasiswa, dan mitra internasional, untuk memperkuat kapasitas usaha pada aspek marketing, keuangan, produksi, dan kesiapan pasar global.
Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, yang menekankan produktivitas, pertumbuhan usaha, kewirausahaan, dan perluasan kesempatan kerja.
Program pengabdian ini berangkat dari persoalan riil yang dihadapi UMKM di wilayah sasaran. Seluruh peserta masih menghadapi kendala dalam pencatatan keuangan yang belum tertib, pemasaran digital yang belum berbasis data, pengembangan produk yang belum konsisten, serta keterbatasan dalam membaca peluang pasar yang lebih luas, termasuk pasar luar negeri. Dalam konteks perkotaan seperti Jakarta Timur, tantangan UMKM bukan hanya bertahan di tengah kompetisi, tetapi juga bagaimana membangun usaha yang efisien, terukur, dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Januari 2026 melalui kunjungan pendahuluan. Tahap ini dilakukan untuk memetakan profil peserta, kondisi usaha, pola pemasaran, pengelolaan arus kas, serta kebutuhan pendampingan yang paling mendesak. Pemetaan awal tersebut menjadi dasar penyusunan materi pelatihan agar intervensi yang diberikan tidak bersifat umum, melainkan benar-benar menjawab kebutuhan UMKM di lapangan.
Tahap berikutnya dilaksanakan pada Februari 2026 melalui kegiatan utama di Yayasan Pemimpin Muda. Acara dibuka oleh Ketua Yayasan dan Ketua Tim Pengabdian, yang menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghadirkan pengabdian yang berdampak dan berkelanjutan bagi masyarakat. Menurutnya, penguatan UMKM tidak cukup dilakukan melalui seminar satu arah, tetapi harus dibangun melalui transfer pengetahuan yang aplikatif dan pendampingan yang konsisten.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh materi dari tiga narasumber utama. Muhammad Hashfi Aufar, CEO Kelas Digi, membawakan topik marketing UMKM dengan penekanan pada praktik digital marketing dan penggunaan Meta Ads secara lebih terarah. Materi ini memberi pemahaman kepada peserta mengenai cara memperluas jangkauan pasar, menyusun promosi yang lebih tepat sasaran, dan mengoptimalkan media digital untuk pertumbuhan usaha.
Selanjutnya, Dr. Muhammad Yusuf dari FEB UNJ menyampaikan materi keuangan dan manajemen usaha melalui pendekatan Smartpreneur Syariah. Fokus utamanya adalah membangun kebiasaan usaha yang sehat melalui pencatatan sederhana, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, pemantauan perkembangan usaha, serta pengambilan keputusan bisnis yang lebih terukur. Pendekatan ini dinilai relevan karena memanfaatkan perangkat yang dekat dengan pelaku UMKM, yakni smartphone, sehingga lebih mudah diterapkan dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Pada sesi berikutnya, Dr. Ellita Permata Widjayanti dari FBS UNJ memperkuat aspek produksi dan pengembangan nilai produk. Peserta didorong untuk tidak hanya menjual barang, tetapi juga membangun kualitas produk, identitas, dan komunikasi nilai yang membuat produk lebih siap bersaing di pasar yang lebih luas.
Program ini tidak berhenti pada pelatihan. Pada Maret 2026, tim melaksanakan pendampingan lanjutan untuk memastikan materi benar-benar diterapkan oleh peserta. Kegiatan ini dibantu oleh Septy, mahasiswa S2 Akuntansi FEB UNJ, yang melakukan observasi terhadap peserta serta memantau implementasi hasil pelatihan. Pendampingan difokuskan pada perubahan perilaku usaha, mulai dari pencatatan keuangan, pengelolaan promosi digital, hingga evaluasi kesiapan produk.
Dari tahap pendampingan tersebut, terlihat adanya output yang konkret. Peserta mulai menerapkan pencatatan usaha yang lebih tertib, memanfaatkan strategi promosi digital secara lebih sistematis, dan memperbaiki pengelolaan produk. Sejumlah peserta menyampaikan bahwa melalui Smartpreneur Syariah, pengelolaan usaha menjadi lebih mudah, lebih rapi, dan lebih terpantau perkembangannya. Bagi pelaku usaha kecil, perubahan ini menjadi fondasi penting untuk memperkuat keberlanjutan bisnis.
Kegiatan puncak dilaksanakan pada April 2026 melalui pelatihan hybrid bersama narasumber internasional Dr. Andrew Saw Tek Wei dari Universiti Malaysia Sabah. Dalam sesi bertajuk “Expanding MSMEs Beyond Borders: Digital Strategies and Global Market Readiness,” peserta mendapatkan perspektif baru mengenai strategi digital dan kesiapan UMKM memasuki pasar yang lebih luas. Judul dan ruang lingkup materi ini sejalan dengan orientasi program yang menekankan perluasan pasar dan kesiapan global, sebagaimana lazim dalam penguatan kewirausahaan dan dukungan kampus terhadap pengembangan UMKM.
Dampak kegiatan mulai terlihat secara nyata. Beberapa peserta sudah mulai menjalankan digital marketing dengan target pasar luar negeri. Melalui praktik berbantuan Meta Ads, jangkauan pasar mereka menjadi lebih luas dan lebih tersegmentasi. Perubahan ini menunjukkan bahwa ketika UMKM dibekali strategi yang tepat, peluang ekspansi tidak lagi hanya menjadi wacana, tetapi mulai menjadi langkah nyata.
Dari sisi outcomes, program ini memperkuat indikator SDG 8, terutama pada aspek peningkatan produktivitas UMKM, penguatan kapasitas kewirausahaan, perluasan akses pasar, dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Arah ini sejalan dengan semangat kampus berdampak yang ditunjukkan UNJ dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat, yakni menghubungkan pengetahuan akademik dengan solusi nyata bagi persoalan komunitas. Pendekatan semacam ini juga tampak pada publikasi pengabdian UNJ lainnya yang menekankan sasaran spesifik, persoalan wilayah, intervensi terukur, kolaborasi, dan dampak langsung bagi penerima manfaat.
Program ini juga menekankan keberlanjutan. Setelah pelatihan inti dan pendampingan selesai, peserta tidak dibiarkan berjalan sendiri. Pendekatan Smartpreneur Syariah dirancang agar dapat terus digunakan sebagai alat pemantauan usaha sehari-hari, sementara praktik digital marketing yang telah diperkenalkan dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan pasar. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari kemampuannya membangun kebiasaan usaha yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Melalui sinergi antara dosen, mahasiswa, praktisi, mitra UMKM, yayasan, dan narasumber internasional, Comdev EQUITY LPDP–UNJ menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat bergerak melampaui pelatihan seremonial. Di tangan pendampingan yang tepat, UMKM tidak hanya belajar, tetapi juga bertumbuh, bertransformasi, dan mulai berani menatap pasar yang lebih luas.
Kata kunci: UMKM, Smartpreneur Syariah, digital marketing, Meta Ads, keuangan usaha, produksi, pendampingan, SDG 8, EQUITY LPDP–UNJ, market readiness. (*)
Apa Reaksi Anda?