Dugaan Keracunan di SDN Balong Mulyo Rembang, Mitra Dapur MBG Beri Klarifikasi
Pihak mitra penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG) Karangharjo Kragan 002 memberikan klarifikasi terkait insiden kesehatan yang menimpa sejumlah siswa di SDN Balongmulyo, Kecamatan Kragan, Kabupa
REMBANG - Pihak mitra penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG) Karangharjo Kragan 002 memberikan klarifikasi terkait insiden kesehatan yang menimpa sejumlah siswa di SDN Balongmulyo, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang.
Dalam keterangannya, Wahyu Adi selaku perwakilan dari SPPG, menegaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum para siswa mengonsumsi menu makanan utama.
Menurutnya, gejala mual dan muntah muncul sesaat setelah siswa mengonsumsi susu yang dibagikan pasca kegiatan jalan santai.
"Saya jelaskan, anak-anak ini belum sempat makan. Habis jalan-jalan langsung pada minum susu, jadi baru susunya saja," ujar Wahyu Adi saat memberikan tanggapan kepada wartawan, Selasa (21/4/2026).
"Kalau dibilang keracunan makanan, mungkin belum (tentu), karena makanannya belum dimakan," imbuhnya.
Wahyu menjelaskan, bahwa susu yang didistribusikan dipastikan dalam kondisi layak konsumsi jika dilihat dari masa kedaluwarsa.
Ia menyebutkan label expired pada kemasan masih sangat lama, yakni sekitar November 2026.
Meski demikian, pihaknya belum bisa memastikan penyebab pasti mengapa reaksi medis tersebut hanya terjadi di satu sekolah.
Saat ini, tim medis dari Puskesmas setempat tengah melakukan penelitian mendalam terhadap sampel yang ada.
"Kami masih menunggu kepastian dari Puskesmas apa penyebabnya. Uji sampel untuk muntahan dan makanan masih diteliti, jadi kami menunggu laporan detailnya," tambahnya.
Pihak SPPG mencatat bahwa mereka melayani total 24 sekolah di wilayah tersebut dengan jumlah penerima manfaat mencapai 3.238 siswa.
Dari ribuan siswa tersebut, laporan keluhan kesehatan hanya muncul dari satu sekolah, yakni SDN Balongmulyo.
"Kondisi susu dari sekian ribu penerima manfaat, Alhamdulillah yang lain masih sehat dan aman. Hanya laporan dari SD itu saja yang masuk," kata Wahyu.
Walaupun tetap mengedepankan hasil uji laboratorium, Wahyu tidak menutup kemungkinan adanya faktor teknis di lapangan dan menyatakan kesiapan untuk bertanggung jawab jika ditemukan kelalaian.
"Mungkin tetap ada sedikit kelalaian dari kami, makanya kita tidak bisa memastikan sebelum ada hasil. Kita tunggu saja laporan resmi dari Puskesmas seperti apa," pungkasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?