Dari Laboratorium hingga Industri, FMIPA UNISMA Mengajarkan Realitas yang Tak Selalu Nyaman
Di ruang kelas, ilmu sering hadir dalam bentuk yang rapi: konsep yang jelas, langkah yang sistematis, dan jawaban yang terasa pasti.
MALANG - Di ruang kelas, ilmu sering hadir dalam bentuk yang rapi: konsep yang jelas, langkah yang sistematis, dan jawaban yang terasa pasti. Namun di dunia nyata, satu hal kecil yang terlewat bisa mengubah segalanya—tanaman gagal panen, kualitas menurun, bahkan produk ditolak sebelum sampai ke tangan konsumen.
Realitas yang tak selalu nyaman inilah yang dihadirkan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA) dalam sebuah kuliah tamu pada Minggu, 3 Mei 2026. Bukan sekadar agenda akademik, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan yang dipelajari dan kenyataan yang harus dihadapi—di laboratorium pemerintah maupun di industri.
Di hadapan mahasiswa, dua alumni Biologi hadir membawa cerita yang berbeda, namun saling melengkapi: Nunuk Indriyani, S.Si., Analis Laboratorium OPT dan Biomolekuler di BRMP TAS (Balittas), serta Terra Januarista, S.Si., praktisi Quality Sampling dan Pest Management di PT Prasad Seeds Indonesia.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/
Nunuk berbicara dari dunia yang tenang—laboratorium. Di sana, segala sesuatu dimulai dari hal-hal kecil yang nyaris tak terlihat: mikroorganisme, isolat, dan proses panjang yang membutuhkan ketelitian. Ia menjelaskan bahwa pengendalian hayati bukan dimulai dari tindakan di lahan, melainkan dari serangkaian proses ilmiah—eksplorasi, isolasi, purifikasi, hingga uji kualitas.
“Setiap isolat harus dipastikan kualitasnya. Kalau tidak, kita sebenarnya tidak tahu apa yang kita gunakan,” ujarnya.
Dari laboratorium, proses itu kemudian dibawa ke lapangan. Trichoderma, yang selama ini hanya dikenal sebagai istilah dalam buku, menjadi nyata. Ia direndam, dicampur dengan kompos, lalu diaplikasikan ke tanah—bukan untuk hasil cepat, tetapi untuk proses yang berkelanjutan.
“Untuk kasus seperti busuk batang, pemulihan bisa memakan waktu sekitar tiga bulan,” tuturnya.
Tiga bulan—waktu yang mungkin terasa lama, tetapi justru di situlah letak pelajarannya: tidak semua solusi bekerja seketika. Ada proses yang harus dijalani, ada kesabaran yang harus dijaga.
Evaluasi pun tidak dilakukan dengan asumsi, melainkan dengan data. Tanah diuji, serangan dipantau, dan hasil dibandingkan dari waktu ke waktu. Setiap lahan memiliki karakter yang berbeda, dan setiap keputusan harus lahir dari pemahaman yang utuh.
Berbeda dengan itu, Terra membawa peserta ke dunia yang jauh lebih keras—industri. Di sana, tidak ada ruang untuk kesalahan.
“Tikus bisa merusak reputasi. Produk bisa di-reject,” katanya singkat.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan konsekuensi besar.
Di gudang penyimpanan, di antara jalur distribusi dan tumpukan bahan, satu celah kecil bisa menjadi awal dari masalah besar. Satu area lembap yang terabaikan, satu catatan yang tidak dibuat, satu inspeksi yang terlewat—semuanya bisa berujung pada kerugian.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/
Terra menjelaskan bahwa pengendalian hama bukan hanya soal metode, tetapi tentang sistem dan kedisiplinan. Risiko harus diidentifikasi, area kritis harus dipetakan, dan setiap temuan harus dicatat.
“Dokumentasi itu bukan sekadar laporan. Itu bukti bahwa kita menjaga kualitas,” ujarnya.
Berbagai metode diterapkan—dari pemasangan light trap dan glue trap, hingga penyemprotan dan pengendalian intensif. Namun pada akhirnya, persoalan sering kembali pada hal yang paling sederhana: kebersihan dan kepedulian.
“Tempat lembap dan kotor adalah sumber hama. Kalau tidak dijaga, semua sistem bisa gagal,” tambahnya.
Di balik semua prosedur itu, ada satu tantangan yang tak kalah besar: manusia. Tidak semua orang merasa pengendalian hama adalah tanggung jawabnya. Padahal, dalam sistem yang kompleks, satu kelalaian kecil bisa berdampak besar.
Diskusi yang dipandu oleh moderator Siti Nuriskiani berlangsung hangat dan penuh pertanyaan. Bukan hanya tentang teknik, tetapi juga tentang arah—tentang bagaimana ilmu Biologi menemukan tempatnya di dunia kerja.
Kuliah tamu ini meninggalkan satu kesadaran penting: bahwa ilmu tidak berhenti pada apa yang dipahami, tetapi pada bagaimana ia dijalankan. Bahwa antara laboratorium, lahan, dan industri, ada benang merah yang sama—ketelitian, konsistensi, dan tanggung jawab.
Menjelang akhir, Ketua Program Studi Biologi FMIPA UNISMA, Dr. Sama' Iradat Tito, menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi terasa dalam.
“Jangan buru-buru ingin menjadi hebat. Mulailah dari memahami, lalu menjadi mampu, dan pada akhirnya menjadi bermanfaat,” ujarnya.
Di tengah dunia yang serba cepat, pesan itu terdengar seperti pengingat: bahwa yang paling penting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa benar langkah yang kita tempuh.
Karena pada akhirnya, ilmu bukan hanya untuk diketahui tetapi untuk dijaga, dijalankan, dan dipertanggungjawabkan. (*)
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/
Apa Reaksi Anda?