Berantas Kekerasan, PBNU Gelar Roadshow Pesantren Ramah Anak di 4 Provinsi

PBNU melalui Saka Pesantren menggelar roadshow Gerakan Nasional Pesantrenku Aman Ramah Anak di empat provinsi guna membangun sistem pencegahan kekerasan santri.

Juni 1, 2026 - 21:01
Berantas Kekerasan, PBNU Gelar Roadshow Pesantren Ramah Anak di 4 Provinsi

PASURUAN - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Satuan Anti Kekerasan (Saka) Pesantren memperkuat sistem perlindungan santri secara masif. Langkah ini diwujudkan melalui rangkaian roadshow Gerakan Nasional Pesantrenku Aman Ramah Anak yang menyasar empat provinsi di Indonesia.

Pondok Pesantren Al Yasini, Pasuruan, Jawa Timur, dipilih menjadi titik mula koordinasi akbar ini yang berlangsung pada 1–2 Juni 2026. Agenda ini dirancang tidak sekadar sebagai ruang sosialisasi, melainkan wadah konsolidasi para pengasuh serta pelatihan intensif bagi ustaz, ustazah, musyrif (pembimbing putra), musyrifah (pembimbing putri), hingga santri.

Para peserta dibekali dengan berbagai materi krusial, mulai dari pelatihan tarbiyah jinsiyah (pendidikan seksual), literasi media, hingga penguatan pola pengasuhan berbasis perlindungan anak. Di samping itu, PBNU juga menggelar Halaqah Pengasuh Pesantren untuk merumuskan sistem proteksi anak yang adaptif di lingkungan sarana pendidikan Islam tradisional tersebut.

Ketua Saka Pesantren PBNU, Alissa Wahid, menjelaskan bahwa pergerakan ini merupakan kelanjutan dari kampanye nasional yang sebelumnya telah diluncurkan di Pesantren Darul Mughni, Bogor, Jawa Barat, pada 18 Mei 2026 lalu.

“Gerakan ini hadir untuk menjawab kebutuhan mendesak dalam memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pesantren. Sekaligus menegaskan bahwa pesantren merupakan ruang yang aman, ramah, dan mendidik bagi seluruh santri,” ujar Alissa di Pasuruan, Senin (1/6/2026).

Alissa menambahkan, gerakan ini ditargetkan mampu mendorong setiap pesantren untuk membangun mekanisme internal yang taktis. Mekanisme tersebut meliputi deteksi dini, penanganan cepat, serta pelaporan kasus kekerasan, dengan tetap menempatkan pengasuh sebagai benteng pelindung utama anak.

Targetkan Ribuan Peserta di Empat Provinsi

Setelah Jawa Timur, safari gerakan nasional ini dijadwalkan menyambangi tiga provinsi lain, yakni Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Pada setiap titiknya, panitia membidik keterlibatan sedikitnya 4.400 peserta, baik dari pesantren tuan rumah maupun delegasi lembaga di wilayah sekitarnya.

Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU, KH Hodri Arief, menegaskan bahwa roadshow ini menjadi momentum penting untuk menyatukan komitmen para pemangku kebijakan pesantren.

“Karena itu, selain pelatihan, kami juga menyelenggarakan Halaqah Pengasuh Pesantren. Forum ini mempertemukan para pengasuh, kiai, dan narasumber ahli untuk merumuskan kebijakan perlindungan anak yang sesuai dengan nilai-nilai pesantren,” tutur Kiai Hodri.

Sebagai puncak komitmen, seluruh rangkaian kegiatan di tiap daerah akan ditutup dengan pembacaan 9 Aksi Pesantren Aman, deklarasi bersama, hingga penandatanganan pakta integritas guna mewujudkan lingkungan belajar yang bermartabat dan ramah anak.

“Gerakan ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah ikhtiar bersama untuk memastikan pesantren tetap menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bermartabat bagi santri dalam menuntut ilmu dan membangun masa depannya,” kata Hodri menegaskan.

Sebagai informasi, Saka Pesantren merupakan tim khusus yang dibentuk oleh PBNU sejak tahun 2024. Lembaga ad hoc yang sebelumnya bernama Satgas Pesantren ini bertugas menyusun strategi komprehensif dalam mitigasi dan penanganan kekerasan.

Hingga kini, Saka Pesantren aktif mengelola berbagai pengaduan, mendampingi korban, menyusun Buku Standar Pesantren, serta menggelar edukasi berkala. Dalam implementasi teknis di lapangan, RMI PBNU bertindak sebagai pelaksana dan fasilitator utama gerakan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow